Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 442 - Security



...***...


Kalau dengan menangkap salah satu di antara mereka, mampu menyelamatkan Derek, maka akan kulakukan cara apapun untuk menangkapnya. Joe mengepalkan tangan.


Kepalanya mendongak menatap bangunan dihadapannya.


"Selain untuk menyematkan Derek, aku juga akan bisa menyelesaikan tugasku. Dengan begitu, aku bisa memastikan Derek aman," gumamnya pelan.


Joe melangkah masuk ke dalam gedung SMP Cahaya Abadi, berjalan melewati gerbang depan.


Langkahnya terhenti saat seorang petugas keamanan menghentikan langkahnya.


"Maaf, anda siapa? Kalau tidak memiliki kepentingan silahkan keluar." Tahan lelaki itu begitu melihat Joe hampir masuk. Ia memperhatikannya dari atas sampai bawah. Begitu melihat pakaian Joe, ia yakin kalau Joe bukanlah anak SMP atau guru yang bekerja di sana. Terlebih, wajahnya kurang familiar baginya.


Joe menoleh padanya.


"Jangan ikut campur dengan urusanku. Aku hanya datang kemari untuk menemui seseorang. Begitu urusanku selesai, aku akan segera pergi."


"Siapa yang ingin anda temui? Biar saya panggilkan, atau kalau tidak anda bisa hubungi orang yang anda maks… arghh!" Pria itu mengerang kesakitan saat Joe menepuk pundaknya dan menggunakan kemampuannya untuk menyetrum pria itu hingga jatuh pingsan.


Brukk!


Tubuhnya terkulai di tanah bersemen.


"Kau berusaha menghalangi jalanku. Tidak akan kubiarkan itu." Joe menarik tubuh pria itu. Menyeretnya menuju pos yang ada dan menguncinya di dalam.


Joe melanjutkan langkahnya. Ia segera masuk dan mencari keberadaan William setelah menghancurkan beberapa CCTV yang ada guna menghilangkan jejaknya.


Satu-satunya alasan Joe menahan kemampuannya adalah agar William tak menyadari kedatangannya, dan satu-satunya alasan ia mengejar William lebih dulu, adalah karena ia sudah terlalu bosan berhadapan dengan Elvina. Wanita itu selalu dibantu Rei saat nyaris di tangkap.


Joe terus melangkah hingga dirinya tiba di kantin dan mendapati orang-orang yang berkumpul di sana.


Joe terdiam mengedarkan pandangannya, mencari sosok William yang diincarnya.



...*...


"Arghh…" Tidur Rei mulai terusik saat sesuatu bergerak menjelajahi tubuhnya.


Entah apa yang sedang terjadi. Rei merasa ada sesuatu. Sebuah benda kenyal yang dingin dan basah, mempermainkan setiap inchi tubuhnya.


Apa ini? Apakah ini mimpi? Rei membuka kedua matanya. Tapi ia sama sekali tak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.


Matanya di tutupi oleh sebuah dasi. Rei memberontak, berusaha menggerakkan tangannya. Sial. Tangannya diikat ke arah kepala ranjang hingga membuatnya tak bisa bergerak.


"Kau siapa?! Lepaskan aku!" teriak Rei keras.


Ucapannya membuat fokus Melinda yang sibuk menikmati tubuh pria itu seketika beralih padanya.


"Ssttt…" Melinda menempatkan tunjuknya di depan bibir Rei.


"Jangan banyak bergerak atau memberontak. Nikmati saja permainanku," katanya dengan suara manja.


"Kau siapa? Lepaskan aku. Apa yang kau Lakukan!" bentak Rei lagi. Ia benar-benar merasa ada yang tidak beres. Terlebih kedua tangannya terikat, matanya di tutupi, dan ia yakin betul bahwa seragamnya terbuka.


Melinda tak mengindahkan ucapannya. Ia sibuk mengagumi tubuh indah Rei. Tubuhnya sama indahnya seperti tubuh Andrich, sama berototnya, dan sama-sama memiliki enam otot perut yang paling disukainya.


Melinda menciumi setiap inchi tubuhnya. Sesekali menggigit permukaan kulitnya hingga membuat Rei makin gelisah.


Rei terus memberontak berusaha membebaskan diri dari Melinda yang kini duduk tepat di atasnya.


Sejak gagal bermain dengan Andrich, ia jadi memiliki ide untuk merasakan bagaimana tubuh Rei.


...***...