
...***...
"Kenapa dia berpikir demikian?"
Rei mengedikkan bahunya. "Ah, sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan orang menjengkelkan seperti dia, lebih baik sepertinya, sekarang aku kembali bekerja. Kau juga lebih baik pulang."
"Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa di rumah."
"Iya. Kau tahu arah jalan pulang, 'kan?"
"Tidak usah khawatir, aku masih ingat."
"Baguslah."
Elvina beranjak pergi meninggalkan Rei seorang diri di sana.
Sepeninggalan Elvina, Rei baru beranjak pergi untuk pulang ke rumah.
...*...
Derek menatap dirinya lewat pantulan cermin yang berada tepat dihadapannya. Ia sudah tampak sangat rapi dengan mengenakan mantel berwarna krem.
"Semoga saja aku datang di saat yang tepat," gumamnya pelan sambil menghela napas.
Bunyi telecosys di atas meja dekat ranjang tidurnya membuat fokus Derek beralih. Ia meraih benda berbentuk bulat tersebut yang kini lampunya menyala.
Derek segera menekan tombol yang ada begitu ia sadar siapa yang memanggilnya.
Layar hologram muncul di hadapannya, menampakkan seorang laki-laki Eropa berkulit putih yang kini memandangnya.
"Hai, Derek. Apakah kau benar-benar akan kemari?"
"Ya. Tentu saja, seperti yang aku bicarakan sebelumnya kalau aku akan ke sana. Apakah kau sedang sibuk?"
"Tidak juga, aku selalu berada di rumah. Akhir-akhir ini, aku selalu bekerja dari rumah. Omong-omong, kapan kau akan berangkat?"
"Aku sedang bersiap. Sebentar lagi aku akan berangkat ke bandara."
"Terima kasih atas pinjaman uangnya. Aku benar-benar berhutang padamu, ketika aku mendapatkan uangnya. Aku akan membayar semua utangku."
"Tidak perlu di pikirkan. Oh, apa kau akan berangkat sendiri? Bagaimana dengan Joe?"
"Dia tidak akan ikut. Ya… seperti yang kau tahu, pekerjaannya banyak. Dia harus mencari mereka berdua."
"Dia belum berhasil menangkap mereka?"
"Ya, begitulah. Sudahlah, aku akan berangkat sekarang. Penerbangannya sebentar lagi."
"Baiklah, sampai jumpa di bandara. Aku akan menunggumu di sana."
"Ok."
Derek menekan tombol yang ada. Layar hologram dihadapannya itu seketika lenyap.
Derek terdiam sejenak. Memandangi telecosys yang berada dalam genggamannya. Telecosys itu adalah benda yang di berikan Joe ketika Derek kembali untuk yang pertama kalinya. Joe memberikan telecosys miliknya agar mereka bisa berkomunikasi setiap saat. Kala itu, Joe bertugas sebagai pengawas di laboratorium.
Tapi semua itu, berubah dari rencana awal saat Joe, ternyata di pindah tugaskan untuk menangkap Elvina dan William yang melarikan diri dari laboratorium.
Derek menekan tombol lain di telecosys-nya, membuat kedua sayap di sisi kiri dan kanan muncul. Derek menempelkan benda itu pada pergelangan tangan kirinya, kedua sayap yang semula muncul, menyatu seketika. Mengubah benda itu jadi jam.
Layarnya kemudian menyala, dengan notifikasi berupa hologram yang menandakan kalau benda itu tengah dalam mode jam tangan.
Tak lama, fokus Derek beralih pada layar yang menyala dengan gambar dirinya dan Joe di sana. Entah kapan foto itu diambilnya bersama Joe, tapi yang pasti dalam foto itu, mereka tampak sangat bahagia.
"Aku hanya berharap Tuhan segera membuatnya sadar bahwa jalan yang diambilnya adalah jalan yang salah," gumam Derek.
Tangannya bergerak mengusap layarnya yang dalam sekejap mengubah wallpaper-nya jadi bergambar galaxy yang bergerak layaknya GIF.
"Waktunya pergi," tuturnya pelan.
Derek meraih tasnya di atas meja, dengan berpakaian rapi. Ia lantas pergi meninggalkan rumah persembunyiannya di tengah hutan.
...***...