
...***...
Apa yang dia inginkan? Kenapa dia terus menekan klakson mobilnya? Rei membatin, ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka mau.
Rei mempercepat laju motornya, tapi mereka mengikutinya hingga mereka kembali beriringan.
Bipp! Bipp!
Klakson kembali di tekan secara berulang oleh pengemudi mobil. Rei lalu memperlambat laju motornya dan membiarkan mobil itu melaju lebih dulu, namun ketika ia bergerak lambat, mobil itu mendadak menggeser lajunya hingga menyenggol motor yang Rei kendarai.
Rei berusaha menstabilkan laju motornya yang mendadak oleng dan sulit untuk di kendalikan, saat tiba di perempatan jalan yang sepi. Secara tiba-tiba mobil melaju dari sisinya.
Brakk!
Suara nyaring terdengar memekakkan telinga. Semua orang yang ada di sekitar jalan itu spontan kaget dan menoleh serentak ke arah asal suara.
Motor yang Rei kendarai terseret jauh hingga beberapa meter karena bertabrakan dengan mobil yang tiba-tiba muncul tadi.
Si pengemudi mobil berusaha menginjak rem, hingga akhirnya berhasil menghentikan laju mobilnya.
Brukk!
Rei terpelanting dari motornya, ia terhempas cukup jauh hingga membuat tubuhnya berguling di tanah beraspal dengan darah yang bercucuran keluar dari tubuhnya.
Semua orang shock, dengan apa yang mereka lihat. Ramai-ramai mereka menghampiri tempat kecelakaan dimana Rei yang terseret jauh dari motornya.
Si pengendara mobil beruntung hanya terluka di bagian kening yang terhantup pada dashboard mobilnya. Ia mendongak dengan kepala berdarah.
"Arghh…" ringisnya sembari mengumpulkan seluruh nyawanya yang nyaris lenyap dari raganya.
Ia menatap lurus ke depan, kepulan asap keluar dari mesin mobilnya.
"A… aku baru saja menabrak seseorang?" Paniknya. Ia bergegas berusaha membuka seat belt yang terpasang pada tubuhnya guna mengecek keadaan orang yang baru ditabraknya.
Beberapa menghampirinya dan berusaha untuk mengecek keadaannya, tapi Rei lebih dulu bergerak hingga membuat semua orang tersentak kaget.
"Argh…" Rei meringis dengan suara tertahan. Ia membalikkan posisi tubuhnya yang semula tengkurap, beralih menengadah.
Ia bangun secara perlahan. Yang lain hanya bisa melongok tanpa berkata-kata ketika melihat Rei yang masih bisa bangun sedangkan keadaannya benar-benar terluka parah.
Rei melepaskan helm yang terpasang pada kepalanya.
"K… kau tidak apa-apa, nak?" Seorang pria paruh baya menghampirinya dengan wajah cemas.
"Aku baik-baik saja." Rei bangun perlahan yang membuat semua orang makin tertohok.
Mereka semua ternganga menatap Rei yang kini bangun dan berjalan seperti orang yang sama sekali tidak mengalami kecelakaan.
Ia menghampiri motornya yang rusak cukup parah.
Si pengendara mobil keluar dari dalam sana dan segera menghampiri Rei dengan wajah setengah tak percaya. Ia seorang wanita.
"Kau tidak apa-apa? Aku benar-benar minta maaf karena sudah menabrakmu," ujarnya panik.
"Aku baik-baik saja."
"Sungguh? Tapi aku menabrak motormu dengan cukup kencang, bagaimana mungkin kau baik-baik saja? Tubuhmu bahkan sampai terluka seperti itu, motormu juga rusak."
"Aku sungguh tidak apa-apa. Kau tidak perlu cemas, maaf juga karena aku yang memang tidak melihatmu melaju dari arah lain."
"Ini salahku. Biar aku ganti rugi semua kerusakannya, dan biar aku antar kau ke rumah sakit." Wanita itu masih cemas melihat keadaan Rei.
"Tidak perlu." Rei tersenyum.
...***...