
...'***...
"Dimana aku? Siapa kau?" tanya Elvina pada wanita yang duduk di hadapannya.
"Kau baik-baik saja. Besok pagi semua lukamu akan pulih dengan sendirinya," ujar wanita itu pada Elvina. Menghiraukan ucapannya.
"Jawab aku, aku mohon. Dimana ini? Kenapa aku bisa ada di sini, dan siapa kau?" Elvina melontarkan pertanyaan yang sama padanya. Ia masih tidak mengerti kenapa dirinya secara tiba-tiba bisa berada di tempat ini, padahal hal terakhir yang di ingatnya adalah Elvina berada di dasar tebing setelah jatuh cukup dalam.
"Namaku Dorothy. Kau berada di Invisible Village, ini kediamanku. Tadi, salah satu penduduk tidak sengaja menemukanmu dan dua temanmu di hutan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Karena tidak tega melihatmu, maka mereka memutuskan membawa kalian menuju tempatku. Beruntung mereka datang di saat yang tepat dan membawa kalian kemari, kalau tidak… para penjaga pasti sudah menangkap kalian dan membawa kalian kembali menuju laboratorium."
"Invisible Village?" Ulang Elvina.
"Ya. Desa kecil yang tidak kasatmata, dimana para evolver yang berhasil melarikan diri dari laboratorium berkumpul dan berusaha bersembunyi dari para penjaga yang mencari mereka."
"Maksudmu… ada evolver lain yang pernah melarikan diri selain kami?"
"Iya. Dan mereka semua berkumpul di tempatku," jelasnya. Perhatian mereka berdua seketika beralih saat suara teriakan William mengisi seluruh ruangan.
Elvina menoleh ke arah datangnya suara melihat William yang berlari ke arahnya dengan di ikuti oleh wanita berjilbab tadi dan seorang pria tinggi berambut kecokelatan yang tak lain adalah seorang pria keturunan Eropa.
"El!" William memeluk tubuh kakaknya.
"Will…" Elvina mendekapnya erat, ia terharu sekaligus lega melihat adiknya baik-baik saja setelah kejadian yang mereka alami.
"Aku senang kau sadar," bisik William.
"Aku juga senang, kau baik-baik saja," balas Elvina sambil tersenyum.
Orang-orang yang ada di sana hanya diam dan memandang ke arah mereka sambil tersenyum simpul. Ketiganya sama terharunya melihat kedekatan kedua kakak-beradik itu.
"Tidak. Itu juga berkat kau yang berjuang sekuat tenaga melindungiku walaupun tenagamu terkuras habis." William tersenyum simpul.
"Sudah semestinya aku berjuang untuk melindungimu, kau adalah adikku."
"Bagaimana denganmu, apakah tubuhmu ada yang sakit? Apakah kau juga terluka?"
"Kakakmu baik-baik saja, kau tidak perlu cemas." Dorothy yang menjawab. William dan Elvina menoleh ke arahnya.
"Benarkah? Syukurlah, aku benar-benar lega mendengarnya," tutur William.
"Wah, Will, ternyata kau adalah adik yang begitu penyayang," kata pria yang semula datang bersama William.
Elvina dan William mendongak menatap ke arahnya. Pria itu, memiliki tubuh tinggi dengan kulit putih dan rambut kecokelatan layaknya orang Eropa, matanya berwarna hijau indah.
Elvina tampak terkejut begitu mendengar lelaki itu mampu berbicara bahasa Indonesia dengan begitu fasihnya.
"Tentu saja, kami ini dekat sekali sejak kecil. Jadi, aku sangat menyayanginya," jawab William padanya.
"Begitu rupanya." Pria itu manggut-manggut.
"Will, siapa dia?" Elvina memandang penuh tanya. William baru saja membuka mulut, tapi suaranya tertahan saat lelaki itu tiba-tiba memotong kalimatnya.
"Oh, betapa tidak sopannya aku. Maaf, karena tidak langsung memperkenalkan diri," tutur pria itu pada Elvina.
Ia sedikit mendekat ke arah Elvina, kemudian menyodorkan sebelah tangannya dihadapannya Elvina.
...***...