Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 177 - Kelas



...***...


Mereka melangkah masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas yang akan menjadi tempatnya belajar, Rei melihat teman-teman sekelasnya sudah duduk di mejanya masing-masing.


"Selamat pagi semuanya," sapa Fadly begitu ia melangkah masuk ke dalam kelas bersama Rei yang dalam sekejap menyita perhatian seluruh isi kelas.


"Pagi, pak," balas mereka serentak. Tak lama seisi ruang kelas dipenuhi dengan suara bisikan dari semua siswa yang ada, mereka membicarakan Rei yang kini berdiri di depan kelas bersebelahan dengan Fadly yang baru saja tiba.


"Baik, sebelum kita mulai. Bapak ingin memperkenalkan diri terlebih dulu." Fadly memulai kelasnya. Ia mulai memperkenalkan diri pada semua siswa yang ada, kemudian berlanjut menjelaskan mengenai mata pelajaran dan beberapa sistem pembelajaran sekolah yang memang menerapkan sistem pembelajaran yang berbeda dari sekolah-sekolah lain pada umumnya.



Fadly lalu beralih fokus pada Rei setelah dirasa perkenalan dirinya cukup.


"Nah, sekarang kenalkan dirimu pada teman-teman barumu," tuturnya. Rei mengangguk pelan.


Seluruh fokus pandangan semua orang kini kembali tertuju padanya setelah beberapa saat disita Fadly. Rei menghela napasnya pelan, ia tidak tahu kenapa tapi berdiri di depan seperti ini membuatnya merasa gugup. Tangannya bahkan sampai berkeringat.


"Perkenalan namaku Rei, usiaku enam belas tahun, dan aku harap kita bisa menjadi teman yang akrab. Kalau kalian membutuhkan bantuanku atau semacamnya, kalian tidak perlu sungkan." Rei memperkenalkan diri. Semua orang menyambutnya dengan begitu hangat, semua orang bahkan tersenyum ke arahnya dan membalas salam perkenalannya.


Di sisi lain, duduk diantara teman-teman sekelasnya. Gloria, gadis yang sempat menabrak Rei itu terduduk di sana. Ia menatap Rei lekat dengan senyuman terukir di wajahnya.


"Sudah aku duga, Rei yang tertulis di daftar nama tadi itu adalah kak Rei," gumamnya pelan bagai bisikan.


Rei hendak melangkah. Tapi suara derap langkah kaki membuat langkahnya terhenti seketika.


Fokus semua orang spontan tertuju pada seorang gadis yang berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal.


"M… maaf, saya terlam… kak Rei…" Lusia mendongak, ia tersentak saat melihat Rei berdiri di sana. Mereka beradu pandang, sama-sama terkejut.


Gloria yang melihat sahabatnya terkejut berdiri di depan pintu hanya bisa menarik sebelah sudut bibirnya membentuk smirk.


Ini akan menjadi sebuah awalan baru yang menarik, pikirnya.


...*...


Bandara Internasional Juwata-Kalimantan, Indonesia.


Derek berdiri dengan koper dan tas backpack besar yang berada di punggungnya. Ia beradu tatap dengan Nils yang tampak tak rela dirinya pergi begitu cepat.


"Ya, mungkin inilah perpisahan. Terima kasih untuk satu minggunya, aku benar-benar senang bisa menginap di tempatmu. Selain itu, terima kasih juga untuk uang yang telah kau pinjamkan. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada dirimu," ujar Derek seraya tersenyum.


"Bukan masalah. Tapi apakah kau yakin harus pergi secepat ini? Tidak bisakah kau di sini lebih lama? Aku benar-benar senang kau datang, karena aku jadi tidak merasa kesepian. Setidaknya ada seseorang yang bisa aku ajak mengobrol." Nils terlihat sangat kecewa.


...***...