
...***...
Elvina melangkah menyusuri jalanan yang kini hanya dihiasi oleh beberapa pejalan kaki lainnya.
Ia tak sendiri, melainkan di temani oleh William yang juga hendak pergi ke sekolah.
Leon tidak bisa menjemputnya hari ini, hal itu membuat Elvina dan William harus pergi dengan menaiki kendaraan umum untuk bisa sampai ke tujuan masing-masing.
Mereka berdua tiba di jalan tempat biasa dulu mereka bertemu dengan Rei. Mereka menghentikan langkahnya sejenak di sana dan menepi untuk melihat pemandangan laut lepas yang terhampar di sana.
"Entah kenapa, sudah lama rasanya sejak terakhir kali kita datang kemari bersama Rei," gumam Elvina pelan.
"Kau benar. Sekarang, kita bahkan hampir tidak pernah datang kemari untuk menikmati sunset bersama."
"Bagaimana kalau sore ini kita hubungi Rei dan minta dia untuk datang kemari lalu menikmati sunset bersama kita?"
"Ide yang bagus!" William tersenyum setuju. Elvina balas tersenyum. Keduanya lalu terdiam sejenak, menghirup oksigen jernih yang belum terkontaminasi polusi dari asap kendaraan bermotor.
Bzzzttt!
Tanpa aba-aba lebih dulu, sebuah serangan yang berasal dari Joe tepat mengenai William hingga membuat adiknya itu tersungkur di tanah bersemen.
Elvina berbalik dan mendapati keadaan yang telah membeku. Joe menggunakan kekuatan penghenti waktunya untuk membuat keadaan membeku dalam posisinya agar tak ada yang menyadari adanya pertarungan.
"Will!" Elvina berjongkok di dekat adiknya yang terkapar di tanah. Ia tidak sadarkan diri akibat Joe yang menyerangnya sangat kuat, di tambah Elvina dalam keadaan lengah yang membuatnya tidak bisa melihat tanda adanya bahaya.
"Kebetulan sekali kalian ada di tempat yang sama. Dengan begini, aku tidak perlu repot-repot untuk menangkap dan mencari kalian secara bergantian." Joe menyeringai.
"Kau! Berani sekali kau menyerang adikku dari belakang!" Elvina bangun dengan tangan terkepal erat dan tatapan tajam ke arahnya.
Elvina berlari menuju Joe dengan sekuat tenaga. Joe yang melihat itu spontan menyerang Elvina dengan kemampuannya.
Setiap serangannya sama sekali tak ada yang mengenai Elvina. Wanita itu dengan gesitnya menghindar dari setiap serangan yang ia berikan, beberapa kali Elvina sempat menahan serangannya dengan perisai yang ia ciptakan.
Tak jarang juga, Elvina balas menyerang dengan kemampuannya.
Bugh!
Elvina menendang kuat tubuh Joe, sialnya lelaki itu berhasil menahan serangannya dengan tangan.
Elvina melayangkan tinjunya. Joe berusaha menahan serangannya dengan tangan yang lain.
Elvina melompat, melakukan tendangan berputar hingga serangannya tepat mengenai kepala Joe.
Bruk!
Tubuh pria itu tersungkur di tanah beraspal. Elvina berdiri di hadapannya. Joe kembali bangkit sebelum Elvina sempat menyerang lagi.
Joe menggerakkan tangannya, menghempas hingga tubuh Elvina terpental jauh akibat serangannya yang tepat mengenai perut.
Suara nyaring saat punggungnya menghantam besi pembatas yang ada di sana terdengar begitu jelas.
"Arghh…" Elvina terkulai dan jatuh dalam keadaan kesakitan. Ia memegangi perutnya yang benar-benar terasa sakit.
"Sekarang saatnya kalian berdua ikut denganku!" Joe berjalan menghampiri Elvina.
Elvina mendongak. Ini bukan akhir baginya, melainkan sebuah permulaan sekaligus pemanasan sebelum sejurus serangan dan pertempuran lainnya di mulai.
Wanita itu bangun dan berlari ke arah Joe. Pria itu menyerang Elvina ketika ia melompat, namun di luar prediksi, Elvina justru menggelindingkan tubuhnya. Menyapu kakinya hingga membuat Joe terbaring dengan posisi menengadah.
"Arghh…"
...***...