
...***...
"Sekarang kenapa aku merasa pernah bertemu dengan pria yang dia maksud?" lirihnya.
Rei mengerutkan kening. Ia mengingat-ingat lagi setiap detail wajah pria yang di tunjukkan oleh Lucy beberapa saat yang lalu padanya.
Rei bangun spontan dengan mata terbelalak saat ia sadar akan sesuatu.
"Aku ingat! Pria yang wanita itu maksud adalah pria yang waktu itu aku temui. Saat Joe tiba-tiba di tangkap oleh penjaga lain, dan Will sedang dalam keadaan terluka. Saat itu, kami bertemu dengan dua orang pria. Elvina kenal dengan pria yang satunya, pria itu adalah profesor, dan pria satu lagi… adalah pria yang di maksud oleh wanita tadi!" Rei kaget dengan fakta yang di terimanya.
"Kalau dia adalah pria yang di maksudnya, lalu siapa wanita itu? Kenapa dia bertanya akan pria waktu itu? Apakah mereka saling kenal? Atau jangan-jangan wanita tadi juga adalah seorang evolver? Tapi kalau dia adalah evolver, kenapa dia tidak menangkapku? Bukankah ini aneh? Dia malah menanyakan tentang lelaki yang bertemu denganku beberapa waktu lalu."
...*...
"Liana!" panggil Leon yang membuat Lucy dan Aland seketika beralih fokus pada pria yang baru saja tiba dengan mobilnya.
"Leon. Sedang apa kau di sini? Kau tidak bekerja?" tanya Lucy melihat adik sepupunya itu datang ke apartemen yang telah dipinjamkan oleh Maxime dan Zabrina selama mereka tinggal di Indonesia.
"Aku kemari hanya untuk mengecek keadaan kalian, aku ingin memastikan apakah kalian sudah pindah atau belum," jelas Leon.
"Tentu saja jadi, kami baru saja tiba," tutur Lucy yang berdiri dengan Aland. Di tangan mereka, keduanya membawa koper berisi alat-alat yang selama ini mereka butuhkan.
"Kami tidak akan tinggal terlalu lama, begitu pekerjaan kami di Indonesia selesai, kami akan segera kembali ke London," jelas Aland.
"Begitu rupanya. Kalau begitu, ayo naik. Biar aku bantu kalian merapikan barang-barang." Leon melangkah di depan, memimpin Lucy dan Aland yang kemudian berjalan mengekor.
Mereka masuk dan segera menghampiri lift, menekan tombol dengan nomor lantai tiga puluh di sana dan segera naik.
Tiba di apartemen yang di pinjamkan oleh Maxime dan Zabrina, Lucy dan Aland segera memilih kamar masing-masing dan menyimpan koper mereka di sana.
"Di sini semuanya sudah cukup lengkap, di tambah terkadang aku menginap disini kalau sedang malas pulang ke rumah. Jadi aku selalu meminta seseorang untuk mengisi kulkas dengan beberapa makanan cepat saji untuk bisa aku makan, dan selalu menggantinya setiap minggu. Jadi untuk makanan, kalian bisa cek di dalam kulkas. Lalu, setiap hari akan ada orang yang datang untuk membersihkan apartemen," jelas Leon panjang lebar pada Lucy dan Aland yang kini berjalan mengikutinya.
"Aku sungguh berterima kasih, Leon. Karena kau, oncle, dan tante sudah mau meminjamkan apartemen untuk kami." Lucy berterima kasih.
"Ya, kalian sudah sangat baik meminjamkan kami apartemen." Aland menimpali.
"Tidak perlu berterima kasih, lagipula kita ini adalah keluarga dan sudah seharusnya kita saling membantu. Kalau kalian butuh apa-apa, tidak perlu sungkan untuk menghubungiku," kata Leon.
"Sejauh ini semua yang kami butuhkan sudah cukup, tapi mungkin kami ingin pertukaran," ujar Lucy.
...***...