Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 180 - Sekelompok pria aneh



...***...


Pria tadi meringis saat Rei melintas di dekatnya hingga membuatnya tersungkur ke arah meja. Mereka kembali berucap dan terkekeh. Suara tertawa mereka begitu mengganggu di telinga semua orang yang ada di kafetaria, beberapa diantaranya berteriak meminta mereka untuk berhenti karena merasa terganggu.


Tak lama, mereka mulai kembali duduk di meja masing-masing dan menikmati makannya sambil sesekali mengobrol sambil terkekeh.


Rei mengambil duduk di salah satu meja di ujung, ia duduk di dekat jendela.


Heru masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia hanya bisa menunggu keadaan tenang sebelum mulai bertanya. Heru duduk berhadapan dengan Rei. Mereka duduk terpisahkan satu kursi kosong di samping mereka.


Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar kesal melihat mereka. Hatiku juga rasanya sakit ketika mendengar mereka tertawa, walaupun aku tidak mengerti dengan apa maksud dari pembicaraan mereka tadi. Rei meraih gelas miliknya, meneguk isinya hingga tersisa seperempat.


"Rei?" Heru memberanikan diri setelah beberapa saat terdiam tanpa kata.


"Apa?"


"Aku hanya ingin tahu, apakah kau kenal dengan mereka? Maksudku orang-orang tadi, sepertinya kalian memiliki hubungan yang kurang baik. Maaf, aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusanmu. Aku hanya merasa kalau mereka itu keterlaluan."


"Aku juga tidak tahu apakah aku kenal dengan mereka atau tidak. Tapi sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik kita nikmati waktu makan siang kita, dan hiraukan mereka."


"Baiklah." Heru kembali fokus pada makanannya. Hening lantas menyelimuti kebersamaan mereka di atas meja itu.


Ada apa sebenarnya denganku? Apakah mereka sebenarnya memiliki hubungan denganku di masa lalu?dari nada bicara mereka, mereka seakan sangat kenal denganku. Tapi kalau aku kenal dengan mereka, kenapa aku merasa kesal dan muak melihat wajah mereka? Apa sebenarnya hubunganku di masa lalu dengan mereka semua? ucap Rei dalam hatinya.


Rei mengalihkan pandangannya ke arah lain saat ia dapat mendengar dengan jelas salah satu diantara mereka menunjuk ke arahnya saat Rei kepergok melihat mereka semua dari kejauhan.



...*...


Saat pulang sekolah, Rei kembali bertemu dengan orang-orang yang sama yang ditemuinya di kafetaria saat jam istirahat. Mereka lagi-lagi berbicara dengannya dan tertawa tanpa sebab. Hanya Rei yang tidak mengerti dengan kemana arah pembicaraan mereka.


Rei berusaha menghiraukan mereka dan fokus berjalan. Ia hendak pulang kembali ke rumahnya. Tubuhnya benar-benar terasa lelah setelah menjalani hari pertamanya di sekolah.


Rei melaju dengan motornya, meninggalkan sekolah yang kini dihiasi oleh orang-orang yang berhamburan keluar dari gedung di sana.


Setelah Rei berlalu, ia tak sadar bahwa sejak tadi ada seseorang yang mengawasinya tak jauh dari arah pintu masuk. Ia seorang pria dengan pakaian serba hitam, duduk di atas sebuah dinding beton yang tinggi menjulang hingga ke dekat pintu gerbang utama.


"Dia… bukankah dia yang waktu itu? Tidak aku sangka, setelah aku mencarinya kemana-mana, ternyata selama ini dia berada begitu dekat denganku," gumamnya pelan.


...***...