Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 302 - Miranda



...***...


"Aku tidak pergi, kalian saja."


"Lho, kau mau kemana?"


"Aku ingin mencari Rei dan meminta penjelasan darinya!" Lusia berbalik dan meninggalkan kedua sahabatnya berdua di sana.


Heru dan Gloria hanya diam dan menatap kepergiannya yang semakin menjauh dari tempat mereka berada.


"Ini pasti cukup berat untuknya kalau sampai rumor itu benar." Gloria menghela napas berat.


"Aku yakin, rumor itu tidak benar!" Heru menyahut.



...*...


"Dia orangnya kan, ya?"


"Oh, kau benar."


"Aku merasa kasihan padanya, padahal dia cantik. Kekasihnya juga sebenarnya tampan, tapi aku tidak menyangka kalau pacarnya seperti itu."


"Kau tahu alasan kenapa lelaki jelek kebanyakan pasangannya adalah perempuan cantik?"


"Aku tidak tahu, memangnya kenapa?"


"Itu karena lelaki tampan pasangannya juga lelaki tampan, hahaha."


Lusia terdiam dengan kedua tangan yang terkepal saat pembicaraan orang-orang di sekitar koridor di dengarnya dengan sangat jelas.


Ia berusaha untuk menahan amarahnya. Ia sangat ingin membungkam mulut semua orang yang bergosip itu, namun dirinya harus fokus menemukan Rei dulu dan meminta penjelasan darinya mengenai gosip yang beredar tentangnya.


Lusia terus berjalan sampai akhirnya tiba di halaman belakang sekolah. Ia menghentikan langkahnya ketika akhirnya ia menemukan Rei di sana.


Deg!


Lusia membatu di tempat saat ia melihat Rei yang sedang bersama seorang laki-laki. Entah apa yang sedang mereka lakukan, namun dari gesture yang dilihatnya.


Rei seperti menarik kerah baju pria itu hingga membuatnya berjinjit. Kedua tangan pria itu berusaha mendorong tubuh Rei.


Satu hal yang Lusia bayangkan saat itu, Rei sedang berciuman dengannya.


"Rei?!" panggilnya dengan suara keras yang tertahan.


Rei beralih fokus padanya. Menoleh berbarengan dengan lelaki yang ternyata adalah Fandy.


Rei melepaskan cengkramannya, berbalik arah bersamaan dengan Fandy yang kini menatap Lusia dengan raut wajah terkejut.


Jantung Lusia bergemuruh. Emosinya campur aduk melihat apa yang baru saja mereka lakukan.


Lusia berjalan cepat menghampiri lelaki yang menjadi kekasih dan mantannya itu.


"L… Lusia?" Fandy terbata, wajahnya berubah pucat melihat kedatangan gadis itu.


...*...


Heru dan Gloria sejak tadi hanya bisa mendelik ke arah meja sekumpulan kakak kelasnya yang menyebalkan. Mereka sejak tadi tak berhenti bergosip mengenai artikel yang muncul di forum sekolah yang membahas tentang Rei.


Mereka tertawa dengan keras hingga semua orang menatap ke arahnya.


Gloria mencengkram gelas dalam genggamannya erat. Rasanya ia ingin melempar gelas itu ke arah mereka semua agar mereka diam dan berhenti membicarakan pacar sahabatnya.


"Aku benar-benar kesal dengan mereka," gerutu Gloria.


"Ya. Aku juga," sahut Heru di sampingnya.


Mereka menatap tajam meja yang di duduki sekelompok pria aneh itu.


Brakk!


Mendadak meja sekelompok pria itu di gebrak keras oleh seorang perempuan berambut panjang yang berdiri dihadapan mereka.


Raut wajah gadis itu terlihat kesal. Orang-orang yang duduk di meja itu spontan mendongak menatap ke arahnya yang baru saja tiba.


"Pasti kalian 'kan?!" Gadis itu menatap tajam setiap orang di sana.


"Apa maksudmu?" Salah satu orang berdiri menatap gadis itu dengan raut wajah datar.


Gadis itu tak lain adalah Miranda, gadis yang merupakan anak tetangga yang sangat dekat dengan Rei sejak mereka kecil.


"Kalian yang menyebarkan rumor!"


...***...