
...***...
"Sembunyikan aku!" Pria itu menatapnya penuh harap.
"Tentu. Aku akan membantumu." Pria yang lebih tua darinya itu menjawab. Ia membantunya untuk bangun, hingga membuat lelaki itu berhasil bangkit dari posisinya.
Pria tadi merogoh sesuatu dari balik jas yang ia kenakan, dan tanpa ia sadari pria itu menyuntikkan sebuah cairan pada lehernya.
Brukk!
Tubuhnya yang baru berhasil bangkit itu kembali terjerembab ke tanah dalam keadaan terkulai tak sadarkan diri.
Drap!
Langkah semua evolver penjaga itu terhenti ketika ia melihat target mereka yang sudah terkulai dalam keadaan tak sadarkan diri dengan seorang pria dihadapannya.
...*...
Lusia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Setelah berganti pakaian, ia benar-benar ingin beristirahat dan berusaha untuk tidak mencemaskan mengenai Rei yang mendadak tidak bisa ia hubungi selama tiga hari ini.
Aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkannya. Kemana dia sebenarnya? Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali? Lusia menatap layar ponselnya, memandangi chat terakhir yang ia kirim pada Rei yang pesannya sama sekali tidak di baca olehnya.
Tring!
Sebuah pesan masuk dari sahabatnya Gloria. Lusia yang melihat pesan masuk, lalu segera membuka pesan dari sahabatnya itu.
Gloria:
Lusia! Kau sudah membaca beritanya?
Lusia mengerutkan kening saat membaca pesan dari Gloria yang sama sekali tidak dapat ia mengerti maksudnya.
Lusia:
Apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti.
Gloria:
Sepertinya kau belum baca, ya? Syukurlah.
Lusia:
Lusia mulai penasaran dengan apa yang di maksud Gloria. Gadis yang menjadi sahabatnya itu hanya berbicara beberapa patah kata tanpa sebuah kejelasan kemana arah pembicaraannya.
Gloria:
Bukan apa-apa. Hiraukan perkataanku! Omong-omong bagaimana dengan kumpul keluargamu? Apakah ada sesuatu yang menarik? Apakah kau bertemu dengan si tampan Justin? Oh, aku ingin bertemu dengan sepupumu yang tampan itu lagi.
Lusia menghela napas panjang. Gloria malah mengalihkan pembicaraan.
Pasti ada yang sedang ia sembunyikan dariku, pikir Lusia. Ia menatap pesan masuk dari Gloria dengan penuh rasa curiga.
"Tapi apa yang berusaha Gloria sembunyikan dariku?" gumamnya pelan.
Lusia terdiam tanpa berniat membalas pesan dari Gloria. Ia tidak ingin membahas mengenai perkumpulan keluarganya, karena apa yang ia cemaskan tentang Rei lebih mengganggu pikirannya.
Tring!
Pesan lain masuk dari nomor yang berbeda. Nomor itu bertuliskan nama Heru pada kontak yang terdaftarnya.
Heru:
Lusia, ini tidak benar 'kan?
https://smaabadi.co/newsletter/R…
Heru mengirimkan sebuah link yang di kirim dari forum sekolahnya. Lusia mengerutkan kening sebelum akhirnya menekan link yang tertera di sana.
Layar perpesanan beralih menjadi blank putih pertanda browser nya sedang memuat link yang di tekannya.
Lusia terdiam hingga layar itu beralih menampilkan forum sekolahnya, dengan buletin info terbaru yang sedang ramai di perbincangkan.
Judul dengan font bold ber-size besar membuat Lusia membulatkan mata kala ia membaca setiap kata yang tertera di sana.
"A… apa ini?" Lusia speechless. Dadanya mendadak terasa sesak, ia berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan.
Tangannya gemetar, hatinya enggan untuk membaca lebih lanjut tentang berita yang ia baca. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk lebih berani membaca seluruh isi artikel yang tertera di sana.
Lusia mulai berkaca-kaca membaca setiap paragraf artikelnya.
...***...