Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 43 - Pria berjas



...***...


"Aku sudah coba!" teriak Elvina. Ia terus berusaha mempercepat laju mobilnya. Namun, sialnya pedal gasnya sudah mencapai batas.


Elvina dan William semakin resah. Mobil di sampingnya kemudian bergerak mendahului mereka lalu dengan cepat menginjak pedal rem hingga membuat Elvina mau tidak mau ikut berhenti guna menghindari tabrakan.


Elvina dan William terlempar ke depan. Kepala mereka menghantam keras dashboard mobil mereka. Keduanya meringis kesakitan akibat hantaman yang begitu keras.


Elvina mendongak perlahan, darah segar tampak mengalir membasahi keningnya. Tapi, ia sama sekali tak mengindahkannya


"Kau baik-baik saja?" Elvina memastikan keadaan adiknya tanpa memperdulikan dirinya yang terluka.


"Aku baik-baik saja. Hanya terluka sedikit," lirih William seraya mendongak. Keningnya juga dihiasi darah segar.


Elvina dan William beralih menatap ke arah beberapa orang pria berpakaian rapi dengan warna pakaian yang serupa. Warnanya hitam, dengan jas dan dasi yang membalut kemeja putihnya di dalam.



Elvina dan William mengerutkan keningnya. "Siapa mereka? Dan apa sebenarnya mau mereka?" William bergumam penuh tanya.


"Siapapun mereka, dan apapun yang mereka inginkan. Yang kita lakukan hanyalah jangan beranjak sedikitpun dan tetap berada disini! Kunci pintumu." Elvina masih panik. Dengan tangan gemetar, mereka segera mengunci pintu masing-masing agar mereka tidak bisa melukai mereka.


Mobil lain datang dan berdiri di samping mobil mereka. Bagian depan bumper mobil yang satu itu tampak rusak akibat tabrakan yang mereka lakukan pada bagian belakang mobil Elvina.


Mereka juga keluar. Orang dengan pakaian yang serupa, sekilas mereka tampak seperti mafia dalam film-film dengan wajah menakutkan dan pakaian rapi yang membalut tubuh mereka.


Dua diantara mereka mulai mengetuk jendela mobil mereka. "Keluar!" titah mereka dengan suara galak.


"A… aku akan hubungi seseorang untuk menolong kita," ucap Elvina yang segera menyalakan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Tapi, belum sempat ponselnya dinyalakan. Seorang pria di luar sana menghampiri kaca depan. Dalam satu kali hentakan tangan, kaca depan mobil mereka bolong.


Elvina dan William menjerit spontan saking kagetnya. Tangan pria itu tepat berada di depan wajah Elvina. Ia meraba, menarik paksa ponsel Elvina dan membawanya keluar.


Elvina melongok melihatnya. Ponselnya dijatuhkan ke tanah beraspal, kemudian dihancurkan berulang kali dengan cara menginjaknya.


"A… aku akan coba hubungi." William segera bertindak. Tangannya sama gemetarnya dengan Elvina. Dengan tergesa-gesa ia berusaha menyalakan ponselnya.


Notifikasi tiba-tiba muncul menampakkan persentase baterai ponselnya yang sudah benar-benar berada di batas hidup. Hanya tersisa lima persen saja, dan begitu ia hendak membuka kontak. Ponsel itu sudah lebih dulu mati bergantikan layar hitam dengan logo brand ponselnya.


William menatap horor ponselnya. "Tidak! Tidak!!! Arghh!! Kenapa harus di saat seperti ini?" pekiknya kesal.


Di tengah kepanikan itu, satu pria lain berdiri di depan mobil mereka. Kedua tangannya bergerak, dan untuk pertama kalinya lah, Elvina dan William melihat sebuah fenomena yang tidak pernah mereka bayangkan akan mereka lihat secara langsung seperti ini sebelumnya.


Kedua tangan pria itu bergerak terangkat di udara. Jemarinya membentuk gesture meremas, bersamaan dengan itu, mobil mereka bereaksi.


Elvina dan William semakin terkejut saat melihat mobil mereka hancur perlahan.


...***...