
...***...
"Pokoknya aku akan menginap di sini, malam ini!" Potong Leon tanpa sempat membiarkan Elvina berbicara.
Dasar si tukang perintah, dia memang selalu seenaknya, gerutu Elvina di dalam hati. Rei dapat dengan jelas mendengar suara hatinya.
"Nah, sekarang bolehkah pinjamkan aku pakaian? Tidak mungkin aku tidur dengan pakaian seperti ini." Leon bangun dari tempat duduknya.
"Kau bisa meminjam pakaian milik Rei," ujar Elvina ketus. Bagaimana pun, ia tidak akan bisa mengusir Leon dari rumahnya baik dengan cara yang halus maupun kasar karena lelaki itu adalah anak dari orang yang telah memberikannya rumah ini. Jadi mau tidak mau, Elvina harus menerima dia tinggal untuk satu malam.
"Ya, kau bisa menggunakan pakaian milikku," sahut Rei santai.
"Kau tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak. Kalau begitu biar aku tunjukkan kamarnya dan aku pinjamkan kau pakaianku."
"Terima kasih, kau memang sangat baik."
Rei beranjak bangun dari tempat duduknya dan pergi dengan Leon di belakangnya. Mereka pergi ke kamar Rei untuk memberikannya pakaian untuk ganti baju.
Ugh, kalau saja dia bukan anak dari pak Maxime yang sangat aku hormati, aku sudah menendangnya keluar dari rumah ini! Elvina bangun penuh emosi.
...*...
"Terima kasih untuk pakaiannya, sepertinya akan cocok denganku mengingat tubuh kita yang tidak beda jauh." Leon berterima kasih.
"Bukan masalah. Kalau begitu kau ganti baju saja dulu, aku akan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menyikat gigiku."
"Baiklah."
"Rei, aku membawakan…" Elvina menggantung kalimatnya saat pandangannya di kejutkan oleh Leon yang berdiri dengan bertelanjang dada menampakkan tubuh indahnya.
Keduanya diam membatu dengan posisi beradu tatap satu sama lain. Leon dan Elvina sama terkejutnya dengan apa yang baru saja terjadi.
Blam!
Elvina menutup pintunya cepat saat otaknya selesai mencerna apa yang baru saja terjadi. Wajahnya merah padam. Elvina malu bukan kepalang dengan tingkahnya yang main masuk saja tanpa mengetuk lebih dulu.
Memalukan sekali, kenapa aku tidak mengetuk pintunya lebih dulu? Dasar bodoh! Elvina speechless sendiri dengan tingkahnya. Bergegas ia berlari dari tempatnya, membawa lagi selimut dan bantal yang berada dalam genggamannya.
Rasanya ingin bersembunyi di bawah gunung! pekik Elvina dalam hatinya.
...*...
Leon terbaring di atas ranjang tidur Rei, sementara Rei tertidur di kasur lain di lantai. Beruntung ranjang milikinya merupakan ranjang dengan dua kasur yang salah satunya di taruh di bawah ranjang.
Rei berbaring terlentang dengan berbalutkan selimut. Rei sudah memejamkan kedua matanya, sementara Leon masih terjaga dengan pandangan mata yang kini menerawang jauh menatap langit-langit kamar yang gelap di penuhi stiker bintang-bintang yang bersinar karena lampunya dimatikan.
"Rei, bolehkah aku bertanya sesuatu tentang Elvina?" Leon tiba-tiba bergumam, memecah keheningan yang sejak menit-menit terakhir menyelimuti kebersamaan mereka.
Rei membuka matanya. Jujur saja sebenarnya ia belum mengantuk, ia memejamkan mata hanya karena ingin menghindar dari keambiguan yang sejak tadi menerpa mereka.
"Apa?" tanya Rei.
"Kau 'kan sudah kenal dan dekat dengan Elvina sejak kecil, bisakah kau ceritakan sedikit tentangnya?"
...***...