Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 220 - Tidak ada!



...***...


"Lusia hanya sedang memiliki hari yang kurang menyenangkan," ujar Gloria.


"Tapi sepertinya dia memang tidak suka dengan keberadaanku. Sejak awal, Lusia selalu berbicara dengan nada ketus denganku," jawab Rei sambil menatap Gloria.


Lusia melotot mendengar ucapan Rei yang begitu terang-terangan.


Gloria terkekeh menanggapi ucapan Rei. "Ternyata dia sadar," gumamnya pelan.


"Selama ini aku diam saja karena aku pikir kau masih merasa malu dan canggung karena kejadian pertama kali kita bertemu waktu itu, tapi setelah berlalu… ternyata sepertinya bukan."


Gloria dan Lusia menatapnya dengan wajah terkejut, sedangkan Heru tampak bingung dengan maksud Rei.


"Memangnya apa yang terjadi saat kalian pertama kali bertemu?" tanyanya. Rei menoleh. Ia baru saja hendak menjawab, Lusia tiba-tiba memotong ucapannya.


"Tidak ada!" ucapnya. Wajahnya berubah merah setiap kali ingat kejadian saat pertemuan mereka di koridor beberapa waktu lalu.


"Kau salah sangka, Rei. Lusia sering marah-marah denganmu bukan karena itu, melainkan karena ada yang dia sembunyikan darim… hmph…" perkataan Gloria terpotong saat sahabatnya itu membungkam mulutnya secara tiba-tiba.


"Mulutmu benar-benar tidak bisa diam," gerutu Lusia kesal. Gloria benar-benar pengadu, begitu pikirnya.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Rei penasaran.


"Tidak ada! Jangan dengarkan dia. Gloria itu orangnya suka asal bicara!" jawab Lusia ketus.


"Lihat? Kau selalu berbicara seperti ini denganku. Apa sebenarnya salahku padamu? Dan apa yang kau sembunyikan dariku?"


"Tidak ada!"


"Kau bohong. Aku tahu kau bohong. Katakan yang sejujurnya padaku kenapa kau selalu berbicara ketus denganku?"


Brakk!


"Tidak ada! Sudah aku bilang tidak ada! Aish, menyebalkan! Dasar tidak peka!" teriak Lusia penuh emosi. Gadis itu menarik nampannya dan bergegas pergi dari sana.


Rei terdiam memandangi kepergian gadis itu. Sejak tadi dirinya berbicara dengan lembut, tapi yang dilakukan gadis itu justru sebaliknya. Ia terus berteriak dan berbicara dengan ketus.


Rei menghela napas pelan, usahanya mencari jawaban malah berakhir gagal.


"Aku minta maaf atas sikap Lusia. Dia memang orang yang sedikit pemarah, tapi dia sebenarnya baik. Dan satu-satunya alasan dia bersikap seperti itu hanyalah untuk menutupi perasaannya padamu."


"Perasaan?" Heru dan Rei menoleh bersamaan ke arah Gloria.



"Ya. Memangnya kau tidak ingat kejadian saat SMP dulu?" Gloria beradu tatap dengan Rei.


"SMP?" Ulang Rei yang diangguki Gloria. "Maksudmu… kalian mengenalku sejak dulu?"


"Astaga, kau tidak ingat? Wah keterlaluan sekali, pantas saja Lusia semakin kesal akhir-akhir ini."


"Maaf, tapi… aku tidak bisa mengingat apapun yang terjadi di masa lalu. Bahkan, aku sempat tidak ingat siapa orang tuaku, darimana aku berasal, dan apa yang terjadi yang membuat ingatanku hilang."


"Tunggu, maksudmu? Kau amnesia?" Gloria berusaha memperjelas situasinya.


"Ya… setidaknya begitulah yang orang-orang percaya. Memangnya apa yang terjadi antara aku dan dia di masa lalu?"


"Itu…" Gloria menarik napas panjang sebelum akhirnya menjelaskan apa yang terjadi antara Rei, dan Lusia saat SMP dulu.


Rei dan Heru menyimak dengan seksama. Mereka mendengarkan dengan raut wajah serius setiap kalimat yang terlontar dari mulut Gloria.


Rei diam tanpa kata begitu Gloria selesai.


...***...