
...***...
"Siapa di sana?" kata Derek dengan suara keras. Pria itu menyorotkan senter yang sejak tadi digenggamnya pada Dorothy.
Kalimatnya membuat fokus Dorothy beralih padanya. Ia melihat Derek yang membatu sambil menatap padanya tanpa bergerak sama sekali.
Dorothy tercekat. Ia kaget bukan main kala mendapati sosoknya berdiri di sana sambil memandanginya.
"Kau butuh bantuan?" tanyanya saat melihat Dorothy ternyata sedang membereskan semua ranting yang berserakan di tanah.
Ia bergerak cepat menghampiri Dorothy di sana. Wanita tua itu hanya diam tanpa bergerak sambil menatapnya lekat.
"Kau tidak perlu takut, aku bukan penjaga."
Derek tanpa permisi langsung membantu Dorothy mengumpulkan semua ranting yang didapatkannya.
Dorothy hanya diam tak merespon. Ia mulai berusaha tenang dan mengambil semua ranting yang sudah dikumpulkannya.
"T… terima kasih," gumam Dorothy pelan.
"Bukan masalah." Derek tersenyum simpul. "Omong-omong, kemana kita harus membawa ini?"
"Ke sana. Aku tinggal di tepi pantai," kata Dorothy.
"Baiklah. Aku akan membantumu membawanya hingga ke sana." Derek membawa semua itu dan berjalan memimpin di depan sementara Dorothy melangkah dibelakangnya sambil terus memperhatikan sosoknya.
...*...
"Ini adalah makanan terenak yang pernah aku rasakan," kata Derek sambil tersenyum simpul. Ia melahap semua ikan bakar yang diciptakan Dorothy untuknya.
Dorothy hanya diam dan memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Wajahnya mengulas senyum kala melihat pria yang telah membantunya itu makan dengan lahap.
Derek berhenti. Ia lantas menoleh pada Dorothy yang sejak tadi terus saja memperhatikannya.
"Tidak. Kau tidak menggangguku sama sekali," balas Dorothy yang masih menatapnya lekat.
Derek tersenyum lega. "Syukurlah," lirihnya yang kemudian kembali fokus pada makanannya.
"Omong-omong, terima kasih sudah membantuku."
"Bukan masalah. Lagipula kau tampaknya sangat kesulitan, aku tidak tega melihatnya."
"Bukankah kau evolver? Kenapa kau merasa kasihan padaku?"
"Aku memang evolver, tapi bukan berarti aku tidak memiliki hati."
"Para evolver memang tidak memiliki hati. Mereka bahkan mengurung, menculik, dan mengejar orang-orang tak bersalah agar bisa seperti mereka."
"Itu hanya berlaku pada evolver lain. Tidak padaku."
"Kenapa bisa begitu?" Dorothy menaikkan sebelah alisnya.
Derek terdiam sejenak. Ia sibuk mengunyah makanannya sambil otaknya terus menimbang-nimbang untuk cerita padanya atau tidak.
"Chipset di otakku selalu hangus. Itu alasannya kenapa aku bisa bertindak sesuka hatiku," finalnya sambil menoleh pada Dorothy.
"Itu artinya kau…"
"Ya, aku tidak bisa mereka kendalikan. Aku juga tidak mengerti kenapa chipset di otakku itu selalu hangus. Ketika aku remaja, aku mengalami beberapa kali operasi bahkan sampai kepalaku sering terasa sakit. Tapi hasilnya tetap sama, chipsetnya selalu hangus karena adanya tolakan antara sistem di otakku dan setiap komponen pada chipset yang mereka pasang," lirih Derek. Wajahnya mendadak berubah murung.
Pun Dorothy di sampingnya. Kedua mata wanita itu makin berkaca-kaca mendengar kalimatnya. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana tersiksanya hidup Derek selama ada di laboratorium.
"Lalu, bagaimana kau bisa keluar? Apakah mereka tidak mencarimu?" tanya Dorothy lirih.
"Aku bisa keluar karena Joe. Kakakku itu yang sudah membantuku bisa keluar. Dia sudah menukar data pemeriksaan milikku dengan miliknya," jawabnya.
...***...