
...***...
Lusia: Aku tidak ingin kalau kau sampai sakit.
Rei: Ya. Aku akan mengikuti ucapanmu.
Rei membalas sambil tersenyum simpul mendapati perlakuan dari kekasihnya yang begitu perhatian.
Sementara keduanya berbalas pesan, sejak tadi. Tanpa mereka sadari, sepasang remaja memperhatikan mereka dari meja mereka masing-masing.
Sesekali mereka melirik bergantian pada Rei dan Lusia.
...*...
Bel istirahat baru saja berbunyi. Setiap orang melangkahkan kakinya keluar dari dalam kelas masing-masing guna menikmati jam makan siang mereka.
"Al?" Lucy berbicara dengan Aland lewat handsfree yang terpasang di telinganya. Sementara itu, kakinya terus melangkah mencari ruangan tempat dimana target mereka berada.
"Lou, kau sudah menemukan lokasi target kita?"
"Aku belum berhasil menemukannya. Sebaliknya, aku justru tersesat." Lucy menghentikan langkahnya sejenak di koridor yang terletak cukup dekat dengan ruang kafetaria.
"Sekolahnya cukup membingungkan," gumam Lucy sambil memperhatikan sebuah papan berisi denah sekolah dengan beberapa tingkat itu.
Ia berusaha mencari tahu dimana dirinya berada.
"Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah berhasil menemukan petunjuk? Barangkali dari siswa-siswi yang kau ajar?"
"Tidak. Aku tidak menemukan satupun orang yang kita cari," balas Aland.
"Mr. Jonny!" teriakan melengking dari seberang sana, nyaris saja membuat Lucy tuli.
Suara itu tak lain adalah suara dari siswi yang diajarnya di kelas.
Mendengar suara mereka, Lucy bisa menyimpulkan kalau Aland sedang dikerumuni oleh anak-anak itu. Ia terkekeh pelan.
"Ah, sial. Ini benar-benar menghambatku," gumam Aland yang resah.
"Lebih baik kau hadapi dulu mereka. Aku akan terus mencari. Begitu mendapatkan petunjuk, akan segera aku beritahu padamu."
"Baik."
Lucy menekan kembali tombol pada handsfree-nya dan terus melangkah. Sudah tidak heran baginya kalau Aland sampai dikerubungi seperti itu, kenapa tidak? Pria itu memang tampan. Bahkan itu menjadi salah satu alasan kenapa dirinya dulu bisa jatuh cinta padanya.
...*...
"Kalau begitu aku, Heru dan Gloria akan ke kantin. Setelah itu, aku akan ke UKS untuk menemanimu," kata Lusia pada Rei begitu mereka melangkah keluar dari dalam ruang kelas.
"Tidak perlu. Kalian nikmati saja jam istirahat kalian."
"Tidak apa-apa."
"Sudahlah, jangan berdebat. Kami sudah lapar sejak tadi!" gerutu Gloria dan Heru yang sejak tadi berdiri di dekat mereka.
"Maaf." Lusia tercengir. Ia lalu beranjak meninggalkan Rei seorang diri di depan ruang kelasnya.
Sepeninggalan Lusia, Heru, dan Gloria. Fokus Rei mendadak beralih pada seorang pria dewasa yang baru saja keluar dari kelas sebelah mereka.
Rei menyipitkan matanya melihat pria yang tampak familier itu.
Kenapa pria itu seperti orang yang aku kenal? batin Rei. Ia terus memperhatikannya hingga sosoknya menjauh, dan setelah diperhatikan lebih lama, Rei mulai sadar dengan siapa yang dilihatnya.
Aland? Bukankah itu Aland? Kenapa dia ada di sini? Apa yang dia lakukan? Rei semakin yakin kalau pria yang dilihatnya benar-benar Aland.
Ia beranjak dari tempatnya, mengikuti Aland yang terus berjalan menuju bagian sekolah lain dengan beberapa orang siswi mengikutinya dari arah belakang.
"Mr. Jonny!" Beberapa orang siswi terus saja berteriak memanggilnya berusaha membuat lelaki itu berhenti. Tapi, Aland yang mereka panggil justru semakin merasa risih akan kedatangan mereka.
Tidak bisakah kalian pergi? batin Aland.
...***...