Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 224 - Brakk!



...***...


Brakk! Brakk! Brakk!


Lusia membuka kedua matanya saat ia mendengar suara gebrakan yang cukup keras, suara itu berulang kali terdengar.


Ia bangkit dari tempatnya terduduk. "Suara apa itu? Kenapa aku seperti mendengar suara sesuatu yang di pukul?"


Lusia berusaha mencari asal suara yang di dengarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi suara itu mendadak berhenti.


"Aneh, aku jelas-jelas mendengar sesuatu yang di pukul. Apa hanya perasaanku saja?" Lusia memonolog. Ia kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lagi-lagi tak ada apapun yang dilihatnya. Hanya ada dirinya seorang di sana.


"Sepertinya memang hanya perasaanku saja," gumamnya pelan.


Lusia kembali duduk di tempatnya. Ia menyandarkan punggungnya pada bangku taman yang di dudukinya.


Brakk! Brakk! Brakk!


Suara itu kembali terdengar begitu Lusia mendaratkan bokongnya di kursi. Kali ini terdengar lebih jelas.



Lusia kembali bangun dari tempat duduknya, dan kali ini suara itu masih dapat di dengarnya.


"Ternyata benar, aku memang tidak salah dengar." Lusia mengedarkan pandangannya. Suara itu ternyata berasal dari salah satu bagian taman yang terletak di sudut, tepat di belakang perpustakaan.


"Suaranya berasal dari sana." Lusia melangkah perlahan. Ia berjalan menghampiri asal suara yang di dengarnya.


Brakk! Brakk! Brakk!


Lagi. Semakin dekat, ia semakin bisa mendengarkan suara sesuatu yang di pukul berulang kali dengan sekuat tenaga. Dari suara yang di hasilkan, ia bisa menyimpulkan kalau yang baru saja di pukul itu adalah sebuah benda yang terbuat dari kayu.


Lusia menghentikan langkah kakinya saat ia akhirnya menemukan asal suara itu.


Ia tiba di sisi lain taman. Di sana, tepat di benteng yang terbuat dari beton. Diantara tanaman lebat yang menutupi sebagian besar dinding, ia menemukan sebuah pintu yang terbuat dari kayu.


"Aku baru tahu kalau ada pintu seperti ini di sini," gumam Lusia pelan sembari berdiri di depan pintu itu.


Brakk!


Pintu di hadapannya itu bergetar hebat hingga membuat Lusia terperanjat. Lusia terdiam membatu di tempatnya.


Sesaat hening. Tidak ada suara lain yang di dengarnya.


"Halo?" Lusia berteriak, ia ingin memastikan apakah ada seseorang di balik pintu sana yang tengah berusaha membuka pintu tersebut atau tidak. "Apakah ada orang di sana?" teriaknya.


Brakk! Brakk!


Lagi. Tidak ada jawaban dari balik pintu sana. Keadaan mendadak terasa mencekam, Lusia merasa ada yang tidak beres.


Bulu kuduknya mulai berdiri saat pintu itu kembali bergetar lebih keras membuatnya semakin merasa ketakutan.


"Apakah ada orang di sana? Halo?" Lusia kembali berteriak. Ia masih berusaha berpikir positif bahwa ada orang di balik sana yang berusaha untuk keluar, tapi pintunya terkunci.


"Tidak ada siapapun, tapi kenapa pintunya bergetar?"


Fokus Lusia beralih pada celah pintu di bagian bawah, di sana ia melihat sebuah bayangan hitam yang berada di balik pintu tersebut.


Sepertinya memang ada orang di balik sana, pikirnya.


"Halo? Apakah ada seseorang di sana?" teriaknya lagi yang masih berusaha untuk tenang. Gadis itu perlahan bergerak, berjongkok agar bisa melihat ke bawah celah super tipis di bawah pintu itu.


Tanpa ia sadari. Tepat di belakangnya, seorang pria berdiri dengan balutan pakaian serba hitam.


Ia menyeringai melihat Lusia.


...***...