
...***...
"Aku baru ingat setelah aku tiba di rumah," kata Rei.
"Lalu dimana kau bertemu dengannya? Apakah kau ingat, di jalan mana?"
"Tunggu, siapa yang kalian maksud? Aku sama sekali tidak mengerti!" Leon berusaha memperjelas situasi. Sementara itu, Elvina masih diam memperhatikan Lucy dengan penuh curiga.
"Begini, aku kemari untuk meminta bantuanmu," kata Lucy yang kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Bantuan apa?"
"Aku ingin tanya, apakah kau pernah melihat orang ini? Dari informasi yang aku dapat, orang ini memiliki saudara yang bekerja di SMA abadi," tuturnya dalam bahasa Inggris.
Leon meraih ponselnya dan melihat foto pria yang di sodorkan Lucy. Elvina ikut mengintip. Ia terkejut saat melihat ucapan Rei terbukti benar, kalau Lucy menanyakan orang yang sama.
Elvina melirik ke arah Rei.
Benar 'kan? ujar Rei yang diangguki oleh Elvina.
"Siapa ini?" tanya Leon.
"Kenapa kau mencari orang ini?" Leon mendongakkan kepalanya menatap sepupunya.
Rei dan Elvina menatap intens ke arah Lucy, berusaha mendengar penjelasan darinya.
Lucy terdiam sejenak berusaha mencari alasan yang pas untuk pertanyaannya.
"Dia… dia adalah seorang buronan polisi London," ucapnya.
"Buronan?" Rei, Elvina dan Leon menaikkan sebelah alisnya.
"Ya. Begini, sebenarnya Aland ikut bersamaku kemari karena memiliki tujuan lagi. Dia kemari untuk mengejar buronan yang sedang diburu oleh ayahnya."
"Ayahnya? Aku tidak mengerti semua ini, Liana." Leon tak bisa mencerna alasan dari sepupunya.
Elvina terdiam, ia hanya mengerti sebagian dari ucapan Lucy, selebihnya sulit untuk ia cerna. Yang pasti, intinya Elvina mengerti tujuan Lucy menanyakan orang tersebut.
"Begitu rupanya." Leon menanggapi.
Sementara Leon dan Elvina percaya dengan Lucy, beda halnya dengan Rei yang bisa membaca dengan jelas bahwa setiap kalimat yang berloncatan dari mulutnya itu adalah sebuah kebohongan.
Dia berbohong, kata Rei yang dalam sekejap membuat Elvina menoleh pada sang empu yang baru berucap lewat telepatinya.
Apa?
Liana berbohong, bukan itu tujuan sebenarnya.
Kau masih curiga dengannya?
Kecurigaanku berkurang sedikit karena entah kenapa perasaanku mengatakan kalau dia memang berusaha menangkap pria itu. Tapi alasannya bukan itu.
Darimana kau tahu?
Hanya firasatku saja.
Rei terdiam memperhatikan Lucy. Ia berusaha untuk membaca isi hati dan pikirannya, namun ia tidak bisa membacanya. Tampaknya Lucy sama sekali tidak sedang mengkhawatirkan apa-apa.
"Aku memang pernah bersekolah di SMA Abadi, tapi aku belum pernah melihat pria yang kau maksud.
"Benarkah? Lalu bagaimana denganmu, Elvina? Apakah kau pernah bertemu dengannya, Elvina?" Lucy mengalihkan perhatiannya pada Elvina.
"Huh? Aku tidak bersekolah di sana, aku sekolah di SMA lain, dan aku memang sempat bertemu dengannya karena saat aku aku bersama dengan Rei. Tapi, hanya sekilas," jelas Elvina dalam bahasa Inggris.
"Lalu, dimana kalian bertemu dengannya? Apakah kalian masih ingat? Atau barangkali kalian ingat kapan kalian bertemunya?"
"Entahlah, kapan kejadian itu terjadi, Rei?" Elvina menoleh pada Rei.
"Sepertinya beberapa Minggu yang lalu. Kejadiannya masih sangat baru, tapi kami tidak bisa ingat dengan jelas hari atau tanggalnya."
...***...