
...***...
"Itu mereka!" teriak orang-orang yang mengejar Joe.
Joe menoleh ke belakang dan mendapati beberapa orang evolver yang bergerak menuju arahnya dengan menggunakan kapal.
Gawat! Joe mengangkat tubuh Derek, ia segera membawanya menuju hutan guna mencari tempat aman untuk bersembunyi.
Kapal yang di gunakan para penjaga itu lantas berhenti di tepi pantai. Para penjaga segera melangkah turun dari kapal dan bergegas berpencar untuk menyisir seisi pulau agar bisa menangkap mereka.
Joe terus berlari dengan sisa tenaganya yang benar-benar hanya tersisa sedikit.
Brukk!
Tubuh Joe akhirnya mencapai batas. Ia tumbang di tengah hutan belantara ketika berusaha melarikan diri dari kejaran para penjaga.
Napasnya terengah-engah, dan tubuhnya gemetar hebat saking energinya benar-benar habis.
Joe hanya bisa mempertahankan kesadarannya dengan energinya.
Ia menurunkan tubuh Derek dari punggungnya.
Menatap Derek dalam keadaan seperti ini membuat air matanya kembali menetes. Ia benar-benar merasa gagal sebagai kakak yang seharusnya menjaga adiknya.
Joe memeluk tubuh Derek dan menangisinya.
"Maafkan aku, Derek… aku sudah gagal melindungimu…" lirihnya sambil terisak.
"Aku tidak kuat lagi untuk berlari, energiku benar-benar terkuras habis…"
"Dan sepertinya, kita akan tertangkap. Sebelum hal itu terjadi, aku ingin meminta maaf padamu karena sudah gagal melindungimu seperti yang kujanjikan."
"Aku, sudah gagal membawamu pergi dari pulau ini…"
"Maafkan, aku…" Tangis Joe semakin pecah.
Ia benar-benar putus asa. Entah apa lagi yang bisa dia lakukan guna melindungi Derek dan melarikan diri dari kejaran para penjaga.
Energinya habis, dan dirinya tak bisa berlari lagi.
Di saat seperti ini, ia hanya berharap keajaiban datang menghampiri mereka.
Berharap seseorang datang untuk membantunya keluar dari kesulitan ini.
...*...
Wanita itu terus melangkah menyusuri hutan. Berharap bisa menemukan kayu sebanyak mungkin untuk menjadi bahan bakar api unggun mereka nanti malam.
Tap!
Aku rasa ada orang yang menangis. Tapi darimana asalnya?
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari asal suara yang di dengarnya.
Tap!
Perlahan ia melangkah mengikuti arah suara yang di dengarnya.
Benar. Aku tidak salah.
Memang ada orang yang menangis.
Seorang laki-laki.
Tapi, siapa? Kenapa menangis di tengah hutan, pagi-pagi seperti ini?
Wanita itu terus dihampiri berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
Di tengah kebingungan, ia terus melangkah hingga akhirnya bisa melihat siluet sosok yang menciptakan suara itu.
Sosoknya tak terlalu jelas, mengingat hutan tempatnya berada di tumbuhi oleh pepohonan yang cukup lebat hingga cukup untuk menutupi pandangannya.
Siapa itu?
Ia menyipitkan kedua matanya. Kakinya kembali melangkah, mengikis jarak lebih dekat dengan si pemilik suara guna memastikan sosoknya.
"Halo? Siapa di sana?!" panggilnya dengan suara kencang.
Tidak ada jawaban. Pria itu terlalu sibuk dengan Isak tangisnya.
Ia terus melangkah semakin mendekat.
"Halo, siapa di sana?" teriaknya lebih kencang sambil menghentikan langkahnya di antara pepohonan yang tidak terlalu berdempetan satu sama lain.
Pria itu spontan mengalihkan pandangannya sambil menghentikan tangis.
"Siapa itu?!" Joe balik bertanya sambil berteriak.
"Kau benar-benar manusia?" tanya wanita itu sambil mendekat.
"Tolong!" teriak Joe yang ingat kondisi Derek.
"Siapapun kau, tolong aku! Tolong adikku!" kata Joe.
...***...