Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 630 - Musik dalam kegelapan



...***...


Begitu Louis sampai dan memeluknya dari arah belakang. Di saat itu juga tubuh Rei mendadak berubah.


Tubuhnya bergerak menjadi abu yang kemudian melayang tertiup badai. Louis yang menyadari hal itu spontan mendongak. Begitu ia melihat, tubuh Rei telah lenyap, dan abunya berterbangan dengan angin.


"Tuan…" Louis berusaha untuk mengejarnya. Tapi angin sudah lebih dulu mengirimnya ke suatu tempat yang entah dimana.


Louis terdiam seorang diri. Perhatiannya lantas beralih saat ia menyadari sebuah pintu tiba-tiba saja muncul dihadapannya.


Louis kini berdiri di depan pintu itu. Menatapnya dari atas sampai bawah dengan raut wajah bingung.


Pintu?



Rasa penasaran perlahan mendorongnya untuk meraih kenop pintu tersebut.


Louis mengulurkan tangan dan membuka pintunya secara perlahan, suara decitan pintu terdengar begitu jelas di telinganya, dan begitu pintu itu terbuka, Louis menemukan sebuah ruangan di dalamnya. Seolah-olah pintu itu memiliki dunia yang berbeda dari tempatnya berdiri saat ini.


Louis melongo ke dalam. Sekali lagi dia menemukan ruangan yang gelap dan hampa.


Louis melangkah masuk lewat pintu itu secara perlahan.


Begitu tiba di dalam ruangan gelap itu, pintunya mendadak tertutup, membuat Louis seketika terjebak di dalamnya tanpa penerangan sedikitpun.


Tempat ini…


Louis berusaha mengatur napasnya. Air mata masih membasahi wajah lelaki itu. Louis sama sekali tak menghiraukannya dan terus melangkah. Ia merasa kalau semua ini belum berakhir. Masih ada hal lain yang menantinya di dalam sana.


Louis melangkah secara perlahan. Berjalan di antara kegelapan yang menyelimuti ruangan tersebut.


Louis bisa merasakan aura kesedihan dan kesepian yang begitu pekat dibalik kesunyian yang mendominasi di seluruh ruangan.


Tep!


Louis terdiam. Ia bisa melihat pundaknya bergetar.


Dengan langkah perlahan, Louis berjalan menghampiri Rei. Mendekat ke arahnya dan sekali lagi memeluknya.


"Tuan…" panggil Louis.


Rei mendongakkan kepalanya secara perlahan, membuat Louis bisa dengan kelas melihat wajahnya yang kini di basahi oleh air mata.


Rei tersenyum secara perlahan. Tangannya terulur memegang kedua pundak Louis yang kini terdiam sambil menatapnya.


Entah kenapa, tapi melihat Rei yang kini tersenyum ke arahnya dalam keadaan seperti ini rasanya seperti Dejavu. Louis seolah pernah mengalami hal ini sebelumnya.


"Mulai sekarang namamu adalah Louis. Kau adalah Two Voices, One Song ku," gumam Rei.


Louis terdiam. Apa yang Rei katakan sama persis seperti yang dia ucapkan saat pertama kali menciptakannya sebagai imajiner.


Kejadian ini… ternyata ini masih bagian dari kepingan ingatannya?


Perhatian Louis tiba-tiba saja beralih saat ia secara samar-samar mendengar suara sebuah musik yang di putar.


Musik ini…


Louis beranjak bangkit dari tempatnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari asal suara yang dia dengar.


Tapi setelah berusaha mencari ke seluruh sudut ruangan yang gelap, Louis sama sekali tidak bisa menemukannya di manapun.


Louis terdiam mendengarkan suara musik yang di dengarnya. Setiap kalimat dari lirik yang dia dengar benar-benar membuatnya kembali teringat akan ucapan Rei yang memang menganggapnya sama seperti makna lagu tersebut.


Aku bisa merasakannya dia ada di sini, tapi kenapa…


...***...