
...***...
"Aku menelepon hanya ingin mengatakan kalau semua persiapan kita sudah selesai, dan kita hanya perlu menjalankan rencananya."
"Sungguh? Berita bagus! Kalau begitu kapan kita akan menjalankannya sesuai rencana. Kebetulan kalian memberitahuku di saat yang tepat!" Cato tersenyum simpul mendengar kabar dari Martin barusan.
Martin lantas menjelaskan rencananya dan kapan rencana mereka itu akan dilakukan. Cato terdiam dan mendengarkan dengan seksama agar dia paham bagaimana rencananya akan mereka lakukan. Setelah semuanya jelas, Martin dan Cato mengakhiri panggilan mereka lalu memutuskan untuk tidak saling berhubungan sampai rencananya itu dilaksanakan.
...*...
"Pagi, darling..." sapa Dorothy pada lelaki yang menjadi suaminya itu. Wanita itu tengah sibuk mempersiapkan meja makan untuk mereka sarapan. Sementara dia sibuk, beda halnya dengan Cato yang baru saja keluar dari kamar.
"Pagi!" Cato menyapanya balik. Lelaki itu kemudian duduk di dekat kedua putranya yang tengah duduk sambil sibuk mengecek ulang isi tas mereka guna memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Bus sekolah sebentar lagi akan tiba, dan mereka benar-benar harus mempersiapkan semuanya.
"Hari ini aku harus pergi lebih awal karena ada hal yang harus aku kerjakan. Bisakah kau menjaga Lusia?" tanya Dorothy sambil menyodorkan piring berisi sarapan ke arah lelaki itu lalu menghampiri Lusia dan menaruh sarapannya juga.
Cato meraih gelas berisi air minumnya lalu meneguk isinya sekitar satu perempatnya.
"Tentu, kebetulan hari ini aku juga tidak terlalu sibuk. Seharian ini rencananya aku ingin jalan-jalan dan menjernihkan pikiran. Rasanya stres kalau aku terus berada di rumah mengerjakan semua pekerjaanku."
"Syukurlah. Kalau begitu aku bisa dengan tenang meninggalkan Lusia." Dorothy mengambil duduk persis di sisinya.
"Lusia pasti akan sangat senang! Kalah begitu jaga dia baik-baik. Tapi ingat, jangan memberikan dia terlalu banyak makanan manis. Terutama permen!"
"Iya. Kau tidak perlu mencemaskan itu. Aku tidak akan memberikannya permen," jawab Cato dengan nada lembut. Lelaki itu meraih sarapannya dan mulai menikmatinya. Begitu juga dengan Joe dan Derek yang mulai melahap makanan mereka.
Dorothy menoleh ke arah Lusia dan menjelaskan kalau dia tidak bisa menemaninya sampai agak siang seperti beberapa hari yang lalu, dan dia juga mengatakan kalau Cato akan mengajaknya untuk jalan-jalan. Mendengar hal itu, Lusia tampak senang.
Cato terdiam memperhatikan anak perempuan itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
...*...
Waktu berlalu, Dorothy baru saja berangkat. Begitu juga dengan kedua putranya, Joe dan Derek. Mereka sudah pergi ke sekolah sejak tadi, dan sekarang di dalam rumah hanya ada Cato dengan Lusia yang sedang sibuk bermain dengan mainannya.
Cato terdiam di dalam ruang kerjanya, dia sedang berbicara dengan Martin, membahas mengenai rencana mereka yang akan segera mereka jalankan.
"Baiklah, sampai jumpa." Cato menutup sambungan teleponnya. Ia beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri Lusia yang berada di ruangannya. Tiba di sana, fokus gadis itu beralih padanya yang baru saja datang.
"Lusia, ayo kita pergi jalan-jalan keluar," ujar Cato sambil menghampiri perempuan itu. Mendengar ajakannya, Lusia yang polos hanya tersenyum dan mulai bersiap dengan penuh semangat.
Cato lantas membawa Lusia pergi setelah anak perempuan itu bersiap. Cato akan membawa Lusia pergi.
...***...