Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 216 - Pelukan



...***...


Lusia meminta salah satu siswa untuk membantunya, tapi ia menolak karena harus buru-buru menaruh buku-buku yang baru saja tiba itu ke tempat yang seharusnya.


Pustakawan di sekolah mereka terkenal galak dengan omongan yang selalu pedas dan tegas. Tidak ada siswa yang berani membantah setiap perkataannya.


Saat ini, pustakawan yang ada di sana tengah sibuk menerima kiriman berisi paket buku-buku baru untuk perpustakaan mereka.


Saking banyaknya buku yang datang, membuat mereka harus meminta beberapa siswa membantunya.


Lusia menghela napas pelan setelah siswa yang dimintainya tolong itu di panggil oleh wanita gemuk dengan wajah garang yang tak lain adalah pustakawan di sekolahnya.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Semua orang benar-benar sibuk. Apa aku kembali nanti saja? Tapi bagaimana kalau aku lupa? Aku juga yang salah, kemarin tidak ikut dengan Glou, saat dia mengajakku pergi ke perpustakaan." Lusia memonolog. Ia melangkah kembali ke arah rak berisi buku yang carinya.


Ia berdiri di depan rak itu dengan kepala mendongak menatap buku di rak paling atas.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain," bisiknya pelan.


Lusia menoleh ke kiri dan kanan sebelum kemudian berjalan mendekat ke arah rak.


Baru saja Lusia mengambil ancang-ancang, menaikkan sebelah kakinya pada bagian bawah rak, secara tiba-tiba seseorang berdiri di belakangnya dan meraih buku yang nyaris di ambilnya.



Lusia terdiam menyadari tangan yang lebih panjang darinya itu, dengan mudah meraih buku yang harus di ambilnya.


Gadis itu berbalik. Ia tercekat saat menyadari siapa lelaki yang berdiri tepat dibelakangnya.


Lusia refleks mundur, kepalanya yang nyaris bertabrakan dengan papan rak dibelakangnya lebih dulu di lindungi tangan lain lelaki itu.


Lusia terdiam. Ia beradu tatap dengannya. R… Rei…


Ia kehabisan kata-kata menggambarkan keterkejutannya saat melihat Rei muncul tepat dibelakangnya.


Sepersekian detik berikutnya Lusia tersadar. Keluar dari lamunannya dan mendorong tubuh Rei menjauh darinya.


"Apa yang kau lakukan!" pekiknya kesal tanpa peduli bahwa dirinya berada di dalam perpustakaan.


"Aku hanya berusaha melindungimu. Kau nyaris membentur rak di belakangmu," ucapnya dengan wajah tak berdosa.


"Tidak perlu! Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu, lagipula aku tidak menyuruhmu untuk melakukan itu. Memangnya apa pedulimu kalau kepalaku terbentur rak."


Rei menghela napas pelan. Ia sudah terbiasa dengan sikap Lusia yang selalu ketus terhadapnya. Hanya padanya, tapi tidak pada orang lain.


"Lalu untuk apa kau di sini? Kau mengikutiku?" Lusia melipat kedua tangannya rapi di depan dada.


"Aku kemari untuk mengambil buku sejarah yang Minggu lalu di maksud pak Boby."


"Aish, dasar menyebalkan! Kenapa kau harus selalu datang ketika aku…"


Ucapan Lusia tiba-tiba terpotong saat secara mendadak, Rei meraih tangannya dan menarik tubuhnya ke dalam dekapannya.


Gadis itu terkejut dengan apa yang terjadi. Rei memeluknya.


Lusia tercengang. Ia sampai membulatkan matanya dengan tubuh yang seketika membatu.


Jantungnya tanpa sadar berdebar hebat saat tubuhnya jatuh dalam dekapan pria itu.


A… apa ini? Kenapa dia tiba-tiba memelukku? batin Lusia, ia hendak mendongak menatap Rei. Tapi pria itu memegangi kepalanya dengan tangannya.


Brukk!


Beberapa buku terjatuh.


...***...