Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 374 - Pacarnya



...***...


"Kami baru pulang belanja dan mampir sebentar," sahut Gloria.


"Kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Gloria kemudian yang lantas menoleh ke arah Elvina dan William.


"Kami sedang mencari buku. Oh ya, kenalkan ini kedua sepupuku." Rei memperkenalkan Elvina dan William.


"Elvina, dan William," tuturnya.


Elvina dan William menjabat tangan Lusia dan Gloria bergantian sambil saling memperkenalkan satu sama lain.


"Kalian sepertinya sudah mau pergi? Apakah kalian sudah lama disini?" tanya Elvina berusaha bersikap ramah pada keduanya.


"Ya, kebetulan kami sudah akan pergi." Lusia menjawab sambil tersenyum padanya.


"Kalian mau pulang? Mau aku antar?" tanya Rei.


"Tidak perlu, kami bisa pergi sendiri. Lagipula aku tidak ingin mengganggu kalian."


"Kami tidak keberatan, antarkan saja dulu, Rei." Elvina memberikan izin.


"Lihat? Mereka tidak keberatan," kata Rei pada mereka berdua.


William menatap kakaknya. "Kenapa kau memberi izin?" bisiknya amat pelan bagai bisikan.


"Mereka pacaran," ujar Elvina dengan gerak bibir tanpa suara. William hanya mengerutkan kening, ia sama sekali tidak paham dengan kalimat kakaknya yang tanpa suara.


"Antarkan kami sampai depan saja," ucap Lusia akhirnya.


"Baiklah. Ayo." Rei berjalan bersama Lusia dan Gloria.


Terima kasih karena sudah memberikanku izin, El…


Elvina dan William terkejut saat Rei menggunakan kemampuan telepatinya.


Bukan masalah.


Tunggu, ada apa ini sebenarnya? Aku tidak mengerti. William bingung.


Rei dan gadis itu berpacaran, apakah kau tidak mengerti isyaratku tadi? Elvina melirik pada adiknya.


William mengangguk pelan.


Rei mengantarkan Lusia dan Gloria hingga ke halaman depan. Ia menunggu sampai Lusia dan Gloria mendapatkan taksi yang akan mengantarkan mereka pulang.



...*...


Kantor pusat SGLS Agent, London, Inggris.


Seorang lelaki berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangannya dengan sebuah berkas berbalut map biru dalam genggamannya.


"Aku mendapatkan misi baru untuk tim kita," teriak lelaki lain berwajah tampan yang baru saja tiba dan menghentikan langkahnya di ambang pintu masuk. Lelaki itu datang bersama dengan seorang wanita cantik di sampingnya.


"Nanti saja kita bicara Dan, sekarang aku harus pergi ke ruangan tim dua. Ada yang harus aku bicarakan dengan Lucy dan Aland," ujar Ethan dengan tergesa.


"Wait, what's wrong?" Wanita yang berdiri di samping Daniel bertanya sembari menghentikan langkahnya.


"Ya, ada apa?" Daniel menatapnya tak kalah bingung dari Jean. Ya, namanya Jean. Namanya memang seperti laki-laki, tapi dia perempuan.


"Aku berhasil menangkap sinyal dari target mereka," jelas Ethan.


"Benarkah? Maksudmu, target mereka kembali ke London?" Jean memperjelas. Ethan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Maka dari itu, aku harus menemui mereka untuk membahas ini."


"Kalau begitu, kami ikut," ujar Daniel.


"Ya, biarkan kami ikut."


"Baiklah, ayo pergi!" Ethan beranjak dari ruang kerjanya dengan diikuti oleh Daniel dan Jean yang kini berjalan beriringan dengannya.


Ethan sebenarnya berada di tim tiga yang terdiri dari, Daniel, Jean dan dirinya.


Ethan bertugas mengawasi dua anggota timnya dengan menggunakan keahliannya dalam bidang IT dan hacking. Namun, karena Lucy dan Aland dari tim tiga, kehilangan salah satu anggota mereka. Jadi Nico, pimpinan mereka menugaskan dirinya untuk membantu mereka.


Tugas Ethan bertambah dua kali dari sebelumnya, karena selain harus membantu timnya sendiri, ia juga harus membantu tim lain yang membutuhkannya.


...***...