Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 125 - Shella



...***...


Bodoh. Kenapa aku bisa lupa membawa tasku? Kalau saja aku tidak lupa, aku tidak akan terjebak dalam posisi seperti ini. Harus makan dengan si tukang perintah ini, di tambah lagi… dia terus saja mengawasiku sejak tadi. Benar-benar mengganggu, batin Elvina. Makanan yang mereka pesan baru saja tiba. Elvina sedang menikmati makanannya. Tapi bukannya terasa nikmat, Elvina justru merasa tidak nyaman karena Leon terus saja menatapnya tajam.


Elvina melirik Leon lewat ujung bulu mata lentiknya. Lelaki yang menjadi atasannya itu tengah duduk dengan bertopang dagu, makanannya dihadapannya bahkan belum di sentuh sama sekali dan fokus matanya tertuju pada dirinya.


Elvina berdeham kecil guna memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti kebersamaan mereka. Ia meraih gelas minumnya lalu meneguknya hingga tersisa tiga perempat.


"Kenapa bapak tidak makan? Bukankah bapak bilang, bapak sudah lapar?"


"Huh? Kau bilang sesuatu?" Leon tersadar dari lamunannya.


Astaga, sejak tadi dia melamun ternyata… Elvina menggeleng pelan. "Saya bilang bukankah bapak kemari untuk makan? Kenapa bapak malah diam dan terus menatap saya seperti itu?"


"Melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang," bisik Leon.


"Maaf?" Elvina tak mendengar suaranya yang terlalu pelan bagai bisikkan.


"Tidak. Kau lanjut makan saja." Leon meraih sendok dan garpu miliknya. Ia mulai menyibukkan diri dengan makannya.


Elvina mengedikkan bahu, ia berusaha tak menghidupkan ucapannya tadi. Elvina beralih pada makannya.


Kau benar-benar manis ketika kau sedang makan, pikir Leon yang kembali melirik Elvina.



...*...


"Kak Rei?" gumamnya.


Di sana, di dekat meja makan yang terhubung dengan ruang keluarga. Rei baru saja turun dari kamarnya dan hendak duduk untuk makan siang bersama.


Atensinya beralih ketika ia mendengar suara seorang anak kecil yang melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Rei menoleh, beradu pandang dengan anak SD yang kini diam terpaku di tempatnya.


Rei mengerutkan kening. Ia merasa pernah melihat anak perempuan itu, Rei berusaha menelusuri ingatannya dan ia baru ingat dimana pernah melihatnya. Anak itu adalah anak yang berada di foto keluarga yang dipajang di ruang tamu.


Anak perempuan yang sepertinya merupakan adiknya, karena dia yang terkecil dan termuda di foto yang sempat dilihatnya.


"Kak Rei!" Anak itu berlari menghampiri Rei dan memeluk tubuhnya.


Rei diam terpaku. Lagi-lagi sengatan itu kembali ia rasakan setiap kali bersentuhan untuk pertama kalinya dengan orang-orang yang mengenalnya. Kali ini, ia merasakan sensasi yang serupa ketika Isyana memeluknya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba tertancap dihatinya.


"Kakak kemana saja selama ini? Aku benar-benar rindu dengan kakak, kenapa kakak pergi begitu lama? Aku mohon jangan pergi lagi." Anak perempuan itu memeluknya semakin erat sembari menangis.


Rei terdiam. Ia tampak bingung harus bagaimana, apalagi Rei tetap saja tidak bisa mengingat apa-apa tentangnya.


"Shella, kau sudah pulang, sayang?" Suara Isyana menyita perhatian keduanya. Wanita itu kini berjalan menuruni tangga, menghampiri mereka.


"Mama…" Shella menatap Isyana dengan air mata yang menggenang membasahi kedua pipinya. "Kapan kak Rei pulang? Kenapa kak Rei diam saja? Apakah dia tidak rindu padaku?"


...***...