
...***...
"Tapi, aku tidak bisa." Pricilla menampakkan raut wajah murung.
Lida tampak bingung melihat ekspresi dan jawabannya.
"Kenapa tidak? Kau memiliki kemampuan. Bahkan kemampuanmu lebih bagus dariku. Aku yakin, kalau kepala rumah sakit ini tahu, mereka pasti sangat ingin merekrutmu bekerja di sini."
"Aku meninggalkan segala surat-surat pentingku sebagai dokter di Indonesia."
"Apa? Oh… sangat di sayangkan."
"Ya… begitulah," gumam Pricilla.
Mereka terus melangkah menuju arah pintu depan rumah sakit. Mereka hendak pulang, karena tugas Lida di rumah sakit telah usai sejak beberapa jam yang lalu.
Lida baru pulang karena dia menghabiskan waktunya untuk belajar banyak hal mengenai dunia kedokteran dari seorang Pricilla.
"Begini saja. Aku akan membantumu bagaimanapun caranya agar kau bisa bekerja di sini!" ujar Lida penuh semangat.
"Huh? Tapi dengan dokumenku…"
"Hiraukan saja itu. Aku akan berusaha bagaimanapun caranya supaya kau bisa bekerja di sini. Agar aku bisa memiliki teman kerja yang baik sepertimu, dan agar aku bisa belajar lebih banyak darimu."
Pricilla terdiam sambil tersenyum sambil menatap lekat Lida.
"Terima kasih sebelumnya. Tapi aku tidak akan terlalu berharap."
"Bukan masalah, aku akan berjuang sebisaku agar kau di terima bekerja di sini!" ujar Lida penuh semangat. Mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba di pintu depan.
Brukk!
Seorang pria tanpa sengaja menabrak Pricilla hingga nyaris jatuh. Beruntung refleks tubuhnya cepat, sehingga tubuhnya tak jatuh begitu saja saat pria itu secara tidak sengaja menabraknya.
"Maaf, aku tidak sengaja," ujar pria itu dalam bahasa Inggris.
Pricilla tertegun. Ia menatap pria yang barusan menabraknya dengan raut wajah bingung.
"T… tidak apa-apa," gumamnya.
"Pricilla!" Derek berteriak menyerukan namanya. Fokus semua orang, termasuk pria itu langsung beralih pada Derek yang baru saja tiba.
"Derek." Pricilla melambaikan tangannya.
Fokus Derek tertuju pada pria yang baru saja ditabrak oleh Pricilla di depan pintu.
Derek menghampiri mereka. Tapi belum sempat dirinya tiba di sana, pria itu sudah lebih dulu pergi meninggalkan mereka.
Derek diam sambil memperhatikan pria yang terus berlalu. Masuk ke dalam rumah sakit itu.
Ada yang tidak beres, pikirnya.
"Derek!" Pricilla menepuk pundaknya hingga membuat Derek spontan beralih padanya.
"Ya?"
"Aku tanya, sedang apa kau di sini? Kenapa kau malah diam? Apa sebenarnya yang sedang kau amati?" Pricilla menoleh ke arah pintu masuk.
Pria yang tadi menabraknya sudah hilang diantara kerumunan orang yang ada di koridor.
"Tidak ada," kata Derek yang segera beralih atensi padanya.
"Lalu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau kemari?"
"Oh, itu… aku baru selesai mengantarkan Annika membeli obat untuk profesor di apotik dekat sini."
"Benarkah? Lalu dimana Annika sekarang?"
"Dia sedang membeli sesuatu di kedai di sana."
"Oh…"
"Pricilla?" Lida menepuk pundak Pricilla.
"Huh? Oh, astaga. Aku lupa, perkenalkan… ini adalah Lida, dia teman baruku." Pricilla memperkenalkan.
Lida tersenyum lalu mengulurkan tangan ke arah Derek.
"Lida," katanya.
"Namaku Derek." Derek menjabat tangan Lida.
"Derek ini adalah temanku dari Indonesia. Aku datang kemari bersamanya."
"Benarkah? Woah, sepertinya aku harus berterima kasih padamu. Karena kalau bukan kau yang membawanya kemari, aku mungkin tidak akan pernah bisa…"
...***...