
...***...
"Aku sudah menghubungi Melinda untuk kembali dan membicarakan mengenai hal ini. Kita bicara lagi nanti."
"Baik, prof."
"Kalau begitu aku pergi, ada banyak hal yang harus aku urus. Salah satunya adalah mencari penawar untuk luka bakar dari api abadi yang membuat kondirimu selemah ini."
"Oh ya, prof… bagaimana dengan keadaan Josh dan rekan-rekanku yang lain? Apakah mereka sudah sembuh?"
"Beberapa dari mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, dan sebagian lagi, masih terluka cukup parah. Terutama Josh, dia yang paling parah diantara kalian semua. Selain dia terbakar, dia juga terjatuh dari atas gedung."
Joe terdiam seribu bahasa, ia tidak menyangka kalau salah satu anak buahnya akan terluka separah itu akibat serangan dari Rei yang membakar tubuhnya dan menyebabkannya terjatuh dari gedung.
Aku harus bisa menangkapnya dan membawa dia pada profesor agar aku tahu siapa dia sebenarnya, dan kenapa dia memiliki kemampuan sehebat itu sampai-sampai membuat profesor sendiri cukup kesulitan untuk mencari penawar untuk luka yang disebabkan oleh serangannya. Joe mengepalkan tangannya erat.
...*...
Elvina menepis tangan Leon. "Tapi, acaranya nanti malam, dan bapak tidak memerlukan saya," katanya.
"Tetap saja, walaupun acaranya nanti malam, kau harus ikut. Lagipula sudah terlanjur juga, lihat. Kau bahkan sudah berdandan secantik ini, dan kau ingin pulang begitu saja? Lebih baik sekarang kita pergi dan jalan-jalan daripada riasanmu sia-sia." Leon berbicara tanpa jeda.
"Apa? Aku bilang kita pergi jalan-jalan dulu, setelah itu baru kau bisa pulang. Ayo!" Leon menarik tangannya cepat.
"Bapak bilang sesuatu tadi," tutur Elvina yang masih penasaran dengan apa yang di dengarnya, jelas-jelas ia mendengar Leon menyebutnya cantik, tapi Elvina hanya ingin memastikan apakah itu benar atau hanya dirinya saja yang salah mendengar?
"Apa? Memangnya aku bicara hal lain?" Leon terus berkelit. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Semoga saja dia tidak mendengar kalimatku dengan jelas, pikirnya.
"Bapak baru saja bilang sesuatu tentang saya."
"Tidak ada! Sudah, jangan mengada-ada!" tukasnya. Leon menarik Elvina ke tepi jalan dan berdiri di sana. Leon mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi seseorang yang entah siapa, Elvina tidak dapat melihat namanya. Tapi yang pasti setelah itu, Leon menempelkan ponselnya pada telinga kirinya dan mulai berbicara dengan seseorang di telpon.
Elvina terdiam, ia menatap Leon penuh selidik.
Aku benar-benar mendengar kalimatnya. Dia bilang kalau aku ini cantik, apa maksudnya coba? Apakah dia mengejekku karena aku berdandan seperti ini? Oh, dasar menyebalkan. Aku tahu, aku memang tidak terlalu pandai dalam berdandan dan cenderung memoles make up senatural mungkin, tapi kenapa dia sampai mempermasalahkan riasan wajahku? Cih… dasar si tukang perintah! Elvina memutar bola matanya jengah. Tak lama, fokusnya beralih pada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang tampak familier baginya. Elvina pernah melihat mobil itu, tapi entah dimana.
Mungkin hanya perasaanku saja. Lagipula mobil hitam di dunia ini bukan hanya satu, 'kan? Elvina mengedikkan bahunya tak acuh. Tiba-tiba mobil hitam yang semula dilihatnya berhenti di hadapan mereka. Elvina mengerutkan kening. Seseorang kemudian keluar.
...***...