
...***...
"Dan kalian menggunakan anak-anak sebagai objeknya? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu, dan kenapa kau setuju untuk membantu mereka? Bahkan kau sampai menculik Lusia? Bagaimana kalau Meredith tahu akan hal ini? Bagaimana kalau Claire juga tahu? Memangnya kau tidak pernah berpikir sampai sana?"
"Aku melakukan semua ini justru dengan tujuan membalas mereka!"
"A-apa..." Dorothy terdiam tanpa kata begitu mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut suaminya. "Kau melakukan semua ini demi membalas mereka?"
"Awalnya aku memang sudah menolak, tapi aku semakin merasa kesal setiap kali ingat pada wanita itu. Jadi aku pikir, mungkin ini adalah cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk membalasnya. Dengan ini aku merasa puas, hanya dengan melakukan ini aku juga merasa ini setimpal dengan apa yang seharusnya mereka dapatkan!"
"Kau gila! Aku tidak menyangka kalau kau bisa sampai seperti ini. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memberitahukan ini semua pada mereka!" Dorothy bangkit, wanita itu hendak pergi keluar dari dalam sana. Namun Cato dengan segera menahannya.
"Jangan lakukan itu! Aku tidak ingin mereka tahu."
"Memangnya kau berharap apa? Kau pikir aku akan diam saja selama aku tahu semua ini?"
"Kau cukup diam dan berpura-pura seolah kau tidak tahu apa-apa. Jangan sampai hal ini terbongkar, dan jangan sampai aku berbuat hal yang tidak kita inginkan padamu atau anak-anak kita." Dorothy lagi-lagi diam tanpa suara. Ucapan Cato barusan lebih terdengar seperti sebuah ancaman untuknya dan anak-anaknya. "Jangan gila! Kalau kau sampai berani melibatkan Joe dan Derek dalam masalah ini, aku tidak akan tinggal diam."
Cato mendekatkan tubuhnya. Memegangi pundaknya sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
...*...
Waktu berlalu. Setelah perdebatan itu, hubungan rumah tangga mereka jadi tidak baik-baik saja. Cato dan Dorothy seolah sedang perang dingin, walaupun keduanya sama-sama menampakkan reaksi biasa ketika bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Sejak perdebatan itu, Cato pergi ke markas Martin di keesokkan harinya dan menemui lelaki itu di sana. Seperti yang telah dijanjikan, Martin hendak mengajak Cato untuk pergi ke markas tempat mereka menyimpan anak-anak yang mereka culik.
Semuanya berjalan normal dengan Dorothy yang juga berusaha keras bersikap biasa. Wanita itu pergi bekerja dan berusaha untuk tetap fokus walaupun dirinya sungguh tidak tenang.
Beberapa Minggu terus berjalan, dan Dorothy semakin merasa tidak tenang. Dia terus diliputi oleh rasa bersalah bercampur takut. Apa yang dilakukan Cato sungguh membuat hidupnya tidak tenang, sementara dari pengamatannya. Cato sungguh menghadapi hari-harinya seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Lelaki itu bahkan bersikap tenang.
...***...