
...***...
"Rei, sayang." Lusia mengguncang pundak lelaki yang jadi kekasihnya.
Seketika tersadar dari lamunannya. Ia spontan menoleh ke arah gadis yang baru saja berucap.
"Ya? Kenapa?" ujarnya dengan wajah bingung.
"Kau baik-baik saja? Kenapa sejak tadi kau melamun?" Lusia menatap Rei lekat. Begitu juga dengan Gloria dan Heru yang sejak tadi memperhatikan Rei yang entah kenapa melamun tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.
"Aku baik-baik saja," kata Rei.
"Kenapa kau melamun? Apakah ada yang sedang kau pikirkan?" Heru angkat bicara.
"Aku melamun?" Rei balik bertanya.
"Ya. Sejak tadi kau bahkan tidak mendengarkan aku bicara," ujar Lusia.
"Maaf."
"Apa yang kau pikirkan?" Gloria sama penasarannya dengan kedua temannya yang lain.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan tentang pelajaran tadi. Sudahlah jangan di bahas, sekarang ayo fokus lagi pada makan," kata Rei yang kemudian mengalihkan fokus pada makanannya.
Lusia menoleh pada Gloria, gadis itu mengedikkan bahu lalu kembali fokus pada hidangan yang sedang dinikmatinya.
Lusia ikut kembali fokus pada makanannya.
...*...
"Terima kasih sudah mengantarkanku pulang," ujar Lusia sambil tersenyum simpul menatap Rei yang kini berdiri di hadapannya. Lelaki itu menggenggam tangannya seraya menatapnya lekat.
"Kalau begitu aku pamit."
"Hati-hati di jalan." Lusia mengangguk, ia lalu merentangkan kedua tangannya lantas memeluk Rei erat. "Kalau sudah sampai jangan lupa untuk hubungi aku. Jangan buat aku cemas."
"Iya. Aku pasti akan menghubungimu." Rei mencium pundak kepalanya.
Ia melerai pelukannya dengan Lusia. "Kalau begitu, sampai jumpa besok."
"Sampai jumpa."
Rei beranjak, melangkah naik ke atas motor sambil mengenakan helmnya. Tak lama, ia melajukan motornya pergi dari sana.
...*...
Drrttt…
Ponsel Leon bergetar, fokusnya seketika tersita oleh getaran yang ia rasakan.
Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layarnya yang kini menyala menampakkan nama Liana tertera di sana.
"Siapa?" tanya Elvina yang duduk dihadapannya. Mereka sedang berada di salah satu kafe. Leon mengajak Elvina untuk menghabiskan sore bersama sebelum pulang ke rumah.
"Dari Liana. Sejak seharian tadi, dia mengajakku untuk bertemu. Tapi kau tahu sendiri 'kan kalau pekerjaanku di kantor sangat banyak, maka dari itu aku tidak bisa menemuinya. Mungkin dia memintaku untuk bertemu," jelas Leon.
"Kalau begitu angkat saja dan ajak dia bergabung bersama kita."
"Tapi, apakah kau tidak keberatan?"
"Tidak. Kenapa aku harus keberatan?"
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengangkatnya." Leon menggeser tombol bulat hijau yang dalam sekejap menghubungkan sambungan telpon mereka.
"Hello?" Leon mengangkatnya.
Di sisi lain, Elvina yang sibuk menyeruput jusnya seketika beralih fokus pada ponselnya saat benda itu berdering hingga membuatnya beralih fokus.
Elvina menatap layar ponselnya. Nama Rei tertera di sana, ia segera mengangkat telpon dari kakak sepupunya itu.
"Halo, Rei? Ada apa?" ujar Elvina begitu sambungan telponnya terhubung.
"Apa?" Elvina tak bisa mendengar ucapan Rei dengan jelas karena Leon yang juga sedang menelpon.
"Sayang, aku pergi sebentar," kata Elvina sambil memberikan isyarat pada Leon. Pria itu mengangguk, memberikan izin.
Elvina beranjak sedikit menjauh dari Leon agar bisa mendengar dengan jelas suara Rei.
"Maaf Rei, tadi tidak terdengar. Jadi apa yang ingin kau sampaikan?"
"Ada yang ingin aku tanyakan, bisa kita bertemu?"
"Bertemu? Boleh."
...***...