
...***...
Melinda berjalan menyuruh koridor yang kini tampak tenang. Hanya ada beberapa robot android yang tampak sedang menjalankan tugasnya.
Aku di bebas tugaskan. Itu artinya, profesor dan tuan sudah mulai percaya denganku, pikir Melinda. Ia tersenyum simpul sambil terus melangkah hendak kembali ke ruang tempatnya beristirahat.
"Ahh~"
Melinda mendadak menghentikan langkah kakinya saat suara aneh tiba-tiba tertangkap oleh telinganya.
Suara apa itu? Melinda menoleh ke kiri dan kanan, mencari asal suara aneh yang baru saja di dengarnya.
"Ahh~ Andrich…"
Suara itu kembali di dengarnya.
Ada yang tidak beres, pikir Melinda yang segera bergerak mencari asal suara yang di dengarnya.
Ia terus melangkah hingga tiba di depan sebuah ruang pemeriksaan.
Melinda berdiri di ambang pintu dan berusaha untuk mengintip, sayangnya ia sama sekali tidak bisa mengintip karena pintunya tertutup rapat.
"Aku harus memastikan apa yang kudengar tidak sejalan dengan apa yang aku pikirkan," gumamnya.
Melinda menggunakan kemampuannya, berkamuflase dengan udara dan mendorong pelan pintu itu. Sebisa mungkin tidak sampai menciptakan suara.
Ia berhasil masuk tanpa membuat gaduh. Tiba di dalam, ia melihat Andrich yang tengah berusaha melampiaskan libidonya pada salah satu evolver lab yang sedang berjaga di sana.
Dia melakukannya lagi? Sial! Kalau profesor atau tuan sampai tahu tentang ini, bisa-bisa aku di marahi. Aku harus segera menghentikannya, batin Melinda.
Ia menghampiri Andrich dan wanita yang bersamanya.
Tubuhnya kembali terlihat, dan tanpa aba-aba langsung menarik kerah baju Andrich dan membawanya keluar tanpa sempat memberinya kesempatan untuk memberontak.
Melinda menariknya hingga ke dalam ruangannya.
Tiba di dalam, ia melemparkan tubuh Andrich di lantai dan langsung mengunci pintunya.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membawaku kemari?" teriak Andrich dengan wajah kesal.
"Kau baru saja hampir membuat kegaduhan, dan aku tidak bisa membiarkan itu. Kalau tuan dan profesor sampai tahu kau berbuat hal seperti tadi, mereka pasti akan sangat marah padaku!" balas Melinda tak kalah kesal.
"Biarkan saja, memangnya apa pedulimu?!"
"Kau baru saja hampir mencoreng namaku di mata profesor dan tuan. Memangnya kau pikir aku akan tinggal diam?"
Andrich membuang muka. Ia kesal, pelampiasannya baru saja di potong oleh wanita yang bahkan sudah membuat libidonya muncul kembali ke permukaan.
"Cih, kau benar-benar mengganggu."
"Aku hanya berusaha melindungimu dari dirimu sendiri dan melindungi namaku!" Melinda menunjuk-nunjuk dada Andrich dengan telunjuknya.
"Memangnya kau pikir aku ingin seperti ini? Lagipula kau juga yang sudah memancing sisi lainku seperti ini!" Andrich kembali menatapnya dengan lebih kesal.
Melinda tertegun. Ia diam tanpa kata membenarkan ucapan Andrich. Memang benar semua ini salahnya karena sudah membuat sisi lain Andrich kembali bangun dari tidur panjangnya.
Melinda menundukkan kepalanya.
"Aku tahu ini memang salahku. Jadi, biar aku yang tanggung jawab atas semua ini." Melinda mendongak perlahan. Beradu tatap dengan Andrich.
"Apa maksudmu?"
Melinda mendekatkan wajahnya ke arah Andrich lalu berbisik, "akan kuberikan diriku sebagai pelampiasanmu."
Melinda tanpa permisi mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Andrich membatu, ia cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Tapi hanya sesaat, sebelum kemudian ia mulai mengikuti alur permainan Melinda.
...***...