
...***...
"Apa? Kami belum bicara sampai tiga menit!" kesal Elvina.
"Pembicaraan kalian tidak penting. William, ayo keluar!"
William beranjak bangun dari posisinya. Elvina segera berpura-pura menahan William agar tidak pergi.
William melangkah keluar bersama joe, meninggalkan Elvina yang kini terduduk di atas lantai dingin.
Joe mengunci pintunya rapat. Ia lantas membawa William untuk makan di ruang makan.
Bagus, pikir Elvina seraya tersenyum simpul.
Ia segera meraih kunci yang tadi selipkan William. Setelah itu, ia buru-buru menghampiri pintu dan membukanya dengan kunci.
Sebelum keluar, Elvina menoleh ke kiri dan kanan.
Begitu merasa yakin semuanya aman, ia segera berjalan mengendap-endap menuju arah kamar Joe.
Beruntung lokasi kamar dan ruang makan yang kini di tempati mereka berada sangat jauh.
Elvina melangkah menaiki tangga menuju lantai dua guna bisa tiba di kamar Joe.
Tiba di lantai dua, ia segera menghampiri pintu kamar Joe.
Elvina baru saja hendak membuka kamarnya. Tapi sialnya, pintu itu terkunci dan dia sama sekali tidak bisa masuk.
Sial, dia mengunci pintunya. Apa yang harus aku lakukan? Dimana Joe menaruh kunci cadangan kamarnya? Elvina membatin.
Ia segera memikirkan segala kemungkinan yang ada.
Elvina menghampiri sebuah rak hiasan yang ada di dekat kamar Joe. Ia mencari kuncinya di segala tempat. Namun sama sekali tidak dilihatnya.
"Ck, dia benar-benar pintar. Aku tidak bisa membukanya," bisik Elvina pelan.
Apa yang harus aku lakukan kalau begini caranya?
Elvina memejamkan kedua matanya. Merapalkan nama Rei tiga kali dalam benaknya hingga pria yang di sebutnya itu muncul lewat telepatinya.
Ada apa, El?
Apa? Sebentar, aku akan berusaha menghubungi William mengenai hal ini.
Elvina terdiam menunggu penjelasan dari Rei di seberang sana. Tidak lama, William datang dengan mengendap-endap menghampirinya.
"El!" panggilnya dengan suara pelan.
"Kenapa kau di sini?" Elvina panik.
"Rei memintaku untuk membantumu. Apakah pintunya terkunci?"
"Ya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Aku akan coba mencari cara untuk bisa mengambil kuncinya."
"Okay, cepatlah dan hati-hati."
"Hm." William segera pergi menuju lantai bawah. Ia hendak mencari kunci kamar Joe yang sepertinya di bawa oleh Joe.
Tiba di ruang makan. William melihat Joe yang sedang terduduk sambil menikmati makanannya.
Pria itu beranjak bangun dari duduknya begitu selesai menikmati sarapannya.
"Kau akan kemana?" tanya William dengan wajah panik.
"Aku ingin mengecek Elvina, dan mengambil piring kotornya."
"Apa?!" William tersentak.
Gawat, kalau dia lakukan itu. Maka dia akan tahu kalau El, tidak ada di dalam kamarnya. Aku harus mencegahnya! William berusaha memikirkan ide supaya bisa mencegah Joe pergi menuju kamar Elvina.
"Kenapa kau seperti kaget begitu?" tanya Joe yang mendapati reaksi berlebihan dari William.
"Huh, oh. Tidak ada, tapi bolehkah aku saja yang mengeceknya?"
"Tidak bisa. Kalau aku mengizinkanmu melakukan hal itu, bisa-bisa kau memanfaatkannya untuk membuat rencana guna melarikan diri dariku."
"Tidak akan. Lagipula bagaimana caranya aku dan Elvin bisa kabur kalau kami sendiri terkunci oleh gelangmu?" William menunjukkan gelang di pergelangan tangannya.
"Tetap tidak bisa. Aku sendiri yang akan melakukannya!" Joe.
...***...