
...***...
"Dan satu hal lagi! Aku tidak ingin terlibat lebih jauh daripada ini. Aku tidak ingin sampai Joe dan Derek juga terlibat. Bagaimanapun caranya aku akan melindungi mereka, walaupun itu artinya aku harus berpisah darimu!"
"Kau…" Cato mengepalkan kedua tangannya erat. Ucapan Dorothy benar tidak disangka-sangka. Wanita itu membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Aku tidak ingin anak-anakku tahu bahwa ayahnya adalah seorang penjahat sepertimu. Aku juga tidak ingin anak-anakku sampai diejek oleh anak lain karena tahu ayahnya adalah orang sepertimu."
"Berhenti bicara yang tidak-tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, begitu juga dengan anak-anak kita!" Cato mencengkram pundak Dorothy kuat. Dorothy memang merasakan sakit, tapi dia sama sekali berusaha untuk tidak bersuara dan berusaha menahan rasa sakitnya. "Dengar! Kau tidak boleh pergi dariku, kau tidak boleh beranjak sedikitpun dari sisiku."
"Kata-kata itu tidak akan membuat keputusanku berubah. Aku tidak ingin terlibat dengan pembunuh sepertimu."
"Tarik kata-katamu itu, dan katakan kau tidak akan pernah meninggalkanku! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa hidup tanpa anak-anak kita."
"Kau bisa, dan kalaupun kau tidak bisa, maka kau harus bisa belajar hidup tanpa kami." Dorothy mendorong tubuh Cato. Air matanya lagi-lagi mengalir membasahi kedua pipinya. Memang menyakitkan karena dia harus mengatakan ingin berpisah dari orang yang paling dicintainya. Tapi hubungannya dengan Cato tidak mungkin dipertahankan. Hubungan mereka diibaratkan seperti sebuah air sudah terkontaminasi dengan racun yang bahkan tidak akan pernah bisa dinetralisir oleh apapun. Dorothy tidak ingin terlibat lebih jauh, dan dia ingin melindungi anak-anaknya. Walaupun itu artinya dia harus pergi meninggalkan Cato.
Brakk!
Cato menggebrak mejanya dengan begitu keras. Emosinya tidak terbendung, terlebih setelah dia mendengar kalimat Dorothy yang meminta pisah darinya. Ia tidak bisa menerima semua itu.
Sekarang ini dirinya sedang berada di ruangan yang telah disiapkan oleh Miles dan Martin untuk tempatnya mengerjakan semua proyek mereka. Setelah perdebatan itu, Dorothy memutuskan pulang sendiri. Dengan menggunakan kapsul waktu, Dorothy belajar untuk kembali ke tahun dimana dia hidup. Tahun 2007. "Aku sungguh tidak terima ini. Pokoknya aku tidak ingin berpisah dengan Dorothy, Joe dan Derek. Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa mereka."
Kedua tangan Cato semakin terkepal erat. Kesal rasanya setiap kali dia mengingat kejadian tadi. Terlebih alasan Dorothy untuk berpisah dengannya adalah hanya karena Lusia yang gagal dalam proses yang mereka lakukan. Anak itu meninggal setelah prosesnya selesai, dan tubuh pada evolver yang telah tewas kini tersimpan di ruangan khusus sebelum akhirnya nanti dikremasi dan abunya di buang.
"Aku harus menghentikannya. Aku harus menghentikan Dorothy menceraikanku. Tapi bagaimana caranya? Kalau Dorothy kecewa dan menganggapku pembunuh karena Lusia gagal dalam proses itu, maka apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu menghidupkannya kembali? Tapi bagaimana caranya? Aku bukanlah tuhan yang bisa menghidupkan orang mati..." Cato terdiam dengan otak yang terus berputar. Dia mencoba untuk mencari cara guna mencegah Dorothy menceraikannya. Sampai akhirnya Cato mendapatkan sebuah ide yang sangat cemerlang, namun terkesan gila.
Lelaki itu tersenyum. Ia terkekeh semakin kencang begitu ide yang muncul dalam otaknya itu terasa semakin brilian. "Aku memang jenius!"
...***...