
...***...
"Kau siapa? Jangan ikut campur dalam urusan kami?!" tukas pria itu.
"Urusan William adalah urusanku juga, karena dia adalah adikku. Kalian siapa berani sekali menyerang adikku." Leon menatap mereka tajam. Ia tidak akan membiarkan calon adik iparnya dilukai atau di ganggu oleh orang lain.
"Adikmu ini sudah berani-beraninya mengganggu anak bos kami."
"Anak bos kalian? Dan kalian datang kemari atas permintaannya? Astaga, benar-benar pengecut. Memangnya siapa anak bos kalian, dan siapa bos kalian?"
"Tuan muda Anton, anak dari tuan Harrison, pebisnis ternama."
Leon terkekeh pelan dengan ucapan lelaki itu. Ia tidak percaya kalau ternyata orang-orang dihadapannya ini adalah orang suruhan dari anak salah satu koleganya.
"Aku kenal dengan orang tuanya. Begini saja, biar aku yang tangani masalah ini. Minta bos kalian untuk datang menemuiku di kantor besok, untuk membicarakan masalah ini." Leon memberikan kartu namanya pada sekelompok lelaki itu.
"Minta dia untuk bicara empat mata denganku besok. Aku tidak akan tinggal diam melihat adikku di perlakukan seperti ini. Kalaupun dia memang terbukti bersalah, aku akan menyuruhnya meminta maaf pada anak bos kalian."
"Baiklah." Lelaki itu mengangguk pelan sembari menatap kartu nama yang di berikan Leon.
"Kalian boleh pergi." Leon menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
Sejurus kemudian sekelompok pria itu beranjak meninggalkan tempat mereka.
Leon berbalik menghadap ke arah William. "Kau baik-baik saja 'kan? Apakah mereka sudah menyakitimu?"
"Kak Leon tenang saja, aku baik-baik saja. Kakak datang di saat yang tepat."
"Benarkah? Syukurlah, aku lega mendengarnya. Bisa marah kalau kakakmu tahu kau terluka sementara aku melihat kau di hajar oleh mereka."
"Semuanya baik-baik saja," ujar William seraya tersenyum.
Lagipula kalaupun aku terluka, aku akan langsung sembuh keesokkan harinya, pikir William.
"Aku datang untuk menjemputmu."
"Kenapa menjemputku? Memangnya kakak tidak mengantarkan El pulang?"
"Dia kakakmu! Panggil dia kakak juga!" tukas Leon mengingatkan.
"A… ah ya, maksudku kak El…" William membenarkan kalimatnya. Kebiasaannya menyebut Elvina dengan sebutan El tanpa embel-embel 'kak' di depannya membuat William sedikit tidak terbiasa.
Satu-satunya alasan William tak pernah memanggil Elvina dengan sebutan kakak, karena ia tidak ingin memiliki hubungan yang canggung dengan wanita itu. Maka dari itu, ia sama sekali tak pernah menyebutnya dengan sebutan kakak.
Ya… kecuali kalau ada Leon di dekatnya. Ia jadi lebih sering menyebut Elvina dengan embel-embel kakak di depannya guna memberikan kesan bahwa dia adik yang baik di depan Leon.
"Elvina memiliki urusan dengan Linda, jadi dia akan pulang terlambat hari ini. Karena pekerjaanku sudah selesai, jadi aku pikir untuk menjemputmu."
"Begitu rupanya."
"Sekarang ayo pulang." Leon berbalik, berjalan dengan William dibelakangnya.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan William yang kini duduk di samping kemudi bersamanya.
Detik berikutnya, mereka pergi dengan menggunakan mobil yang Leon kendarai.
"Kau tidak ada latihan hari ini?"
"Tidak," jawab William. "Timku mendapatkan satu hari istirahat sebelum pertandingan."
"Begitu. Pantas saja… Oh, omong-omong apakah kau benar-benar mengganggu anak pak Harrison?"
"Itu hanya salah paham."
"Salah paham? Memangnya apa yang terjadi sehingga sampai terjadi kesalahpahaman?" tanya Leon. William lantas menjelaskan semua padanya.
...***...