Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 407 - Aku mengerti bahasanya?



...***...


Lusia baru saja kembali dari setelah mengambil barangnya yang tertinggal di kelas.


Ia berjalan menghampiri Rei yang sudah menunggunya sejak tadi di dekat motor.


Lusia memelankan langkahnya saat ia melihat seorang wanita berambut pirang yang melangkah berpapasan dengannya.


Lusia menatap wanita itu lekat, memperhatikan sosoknya yang jelita.


Perempuan itu siapa? Cantik sekali, pikirnya sambil terus menatap Lucy hingga sosoknya hilang diantara beberapa orang siswa lain yang berlalu-lalang.


"Kau sudah selesai?" tanya Rei seraya menghampiri gadis yang menjadi kekasihnya itu.


Lusia beralih pandang padanya.


"Huh? Oh, ya. Aku sudah selesai."


"Kalau begitu ayo pulang."


"Ayo," kata Lusia yang kemudian berjalan mengikuti Rei dari arah belakang.


Rei memasangkan helm tambahan yang dibawanya pada Lusia, selanjutnya ia naik ke atas motornya dengan membonceng Lusia.


Rei beranjak pergi meninggalkan sekolah.



...*...


"Bagaimana?" tanya Aland pada Lucy yang baru saja kembali setelah beberapa saat ia masuk dan menjalankan tugasnya mencari informasi lebih detail tentang target mereka.


"Aku tidak bisa menemukan petunjuk apapun, orang-orang tidak kenal dengan target kita," jelasnya.


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan saudara yang di maksud?"


"Tidak ada. Orang yang di maksud itu sudah meninggal."


"Apa?"


"Ya, begitu yang aku dengar. Sekarang, sepertinya kita harus mencari informasi lain. Kita harus mencari cara lain agar kita bisa menangkap target kita."


"Bagaimana caranya?"


"Oh, kau benar. Kalau begitu, ayo cari taksi setelah itu pulang ke hotel."


"Ayo."


Aland dan Lucy beranjak dari tempatnya. Ia melangkah menuju tepi jalan, mencari taksi kosong yang melintas guna mengantarkan mereka kembali ke hotel untuk berkemas.


...*...


Brukk!


Rei merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya begitu ia tiba di rumah setelah mengantarkan Lusia.


Ia terdiam memandangi langit-langit kamarnya. Rei masih merasa lelah setelah melakukan banyak aktivitas hari ini.


Tring!


Bunyi ponsel, menyita perhatiannya. Ia beralih fokus pada benda pipih dalam kantong celananya. Merogoh benda itu lalu mengecek pesan yang baru saja masuk.


Lusia: Kau sudah sampai rumah?


Rei tersenyum simpul. Ia mengetik pesan untuk membalas pesan dari kekasihnya.


Rei: Aku baru saja sampai.


Balasnya. Ia lalu melemparkan ponsel di tangannya ke sisi ranjang yang ia tempati.


Rei menghela napas pelan.


Aku benar-benar lelah, pikirnya yang kembali menatap langit-langit kamarnya.


Entah kenapa, Rei mendadak teringat akan wanita Eropa berambut pirang yang secara tidak sengaja ditabraknya.


"Aku heran, kenapa aku bisa mengerti dengan bahasa yang dia gunakan? Bahkan aku bisa dengan sangat mudah berkomunikasi dengannya," gumam Rei pelan. Memang membingungkan, ia tidak mengerti sejak kapan dirinya bisa berbicara dalam bahasa lain, terlebih bukan hanya itu. Saat ia mencoba mencari petunjuk tentang dirinya lewat buku-buku miliknya juga, tidak tahu kenapa Rei bisa dengan mudah mengartikan setiap huruf hangeul, hiragana, dan katakana yang tertulis di sana.


Ingatan Rei beralih. Secara tiba-tiba ingatannya tertuju pada satu momen ketika dimana wanita itu menanyakan padanya mengenai seorang pria yang berada dalam foto di ponselnya.


Rei masih terbayang-bayang akan sosok pria paruh baya dalam gambar yang ditunjukkannya.


"Sekarang kenapa aku malah merasa pernah bertemu dengan dia?"


...***...