
...***...
"Sshh…" Derek sedikit meringis saat rasa sakit mendadak menyerang kepalanya. Hal itu membuat Joe tampak cemas dengan keadaannya.
"Kau tidak apa-apa? Apakah kepalamu terasa sakit lagi?" Joe panik.
Derek berusaha menahan rasa sakitnya agar Joe tidak cemas dengan keadaannya.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
"Sungguh?"
"Sebenarnya hanya sedikit sakit, tapi aku baik-baik saja," gumam Derek pelan.
Ia kembali menampakkan raut wajah murung.
"Entah sudah yang ke berapa kali. Setiap chipset yang dipasang di otakku pasti selalu hangus. Aku tidak mengerti, selain itu… aku harus menjalani operasi berulangkali guna mengganti chipset yang rusak itu. Lalu setelahnya, kepalaku sering terasa sakit…" Derek berucap lirih. Tanpa disadarinya, air mata menetes membasahi kedua pipinya.
"…Rasanya benar-benar menyakitkan. Aku tidak kuat. Rasanya aku ingin mati saja," gumam Derek.
Joe mengepalkan tangannya. Ia memegangi pundak adiknya itu dan memutar tubuhnya hingga saling berhadapan.
"Jangan berkata seperti itu! Kalau kau mati, maka aku akan benar-benar sendirian," ujar Joe.
"Tapi aku tidak tahan…"
"Kau harus bertahan. Kau harus tetap hidup untuk menemaniku. Kita hadapi semua ini bersama, dengan begitu… kau akan bisa bertahan."
"Bagaimana caranya aku bisa bertahan, sedangkan mereka akan terus melakukan operasi padaku kalau-kalau chipset itu kembali rusak."
Joe meremas pundak Derek, keras.
"Aku akan menghentikan mereka melakukannya. Akan kugagalkan agar kau tidak menjalani operasi itu!" Joe berucap penuh tekad, ia menatap lekat kedua iris mata Derek.
"Caranya?"
Joe terdiam sejenak memikirkan ide agar dirinya bisa menggagalkan supaya profesor tidak melakukan operasi pada Derek.
"Aku akan menukar hasil medisku dengan milikmu!" kata Joe begitu dia mendapatkan ide.
"Akan kupastikan itu tidak akan terjadi. Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha menggagalkan mereka agar kau tidak di operasi."
Derek menatap sendu kakaknya.
"Terima kasih, Joe. Karena kau sudah sangat peduli terhadapku."
"Tidak perlu berterima kasih. Kau adalah adikku, dan satu-satunya keluarga yang aku miliki. Sudah seharusnya aku melindungimu. Maka dari itu, berjanjilah untuk bertahan hingga kita berdua bisa sama-sama keluar dari sini."
Joe tersenyum ke arahnya. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala adiknya.
Derek balas tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
"Aku berjanji."
...*...
Laboratorium, satu tahun berikutnya.
2009
Joe melangkah menuju tepi pagar. Fokusnya tertuju pada pemandangan para evolver penjaga yang sedang bekerja.
Bergerak mengangkut satu persatu orang yang akan mereka pindahkan dari kapal ke laboratorium.
Satu tahun berlalu. Semenjak kejadian saat itu, ia sudah berhasil mengelabui profesor dengan mengubah setiap data medis milik Derek dan menukar hasilnya dengan miliknya.
Derek gagal menjalani operasi, dan dirinya masih tetap aman tanpa mengulang operasi.
Hal itu dikarenakan dirinya di pilih untuk menjadi evolver penjaga yang secara otomatis setiap gerak-geriknya akan senantiasa terpantau oleh profesor dan yang lainnya.
Joe sudah berhasil menyelesaikan setiap prosesnya dan telah benar-benar menjadi seorang evolver sempurna yang bisa mengendalikan kemampuannya dengan baik.
Tugasnya setiap saat hanya berjaga di pos dan berkeliling guna memastikan setiap evolver yang dalam masa penyempurnaan ada di tempatnya masing-masing.
Terdengar simpel, tapi tidak sesimpel itu.
"Kudengar adikmu akan di kirim ke Indonesia."
...***...