
...***...
"Di sini panas."
"Maaf, biar saya perjelas situasinya. Saya menolak mobil fasilitas dari pak Maxime karena saya merasa tidak enak pada beliau. Beliau sudah sangat baik pada saya, memberikan saya jabatan yang tinggi, gaji yang besar, lalu rumah untuk tempat saya tinggal bersama dengan adik saya. Jadi, kalau saya menerima mobil yang beliau berikan juga akan sangat berlebihan bagi saja. Ditambah lagi, kalau sebelumnya saya menerima pemberian mobil dari beliau, otomatis saya harus memikirkan juga pengeluaran saya untuk mengurus kendaraan, seperti biaya kalau ada kerusakan, belum lagi perawatan bulanan, dan lain-lainnya. Selain itu, saya belum memiliki SIM, dan saya lebih suka pergi bekerja dengan kendaraan umum. Lagipula menolak pemberian dari beliau juga adalah hak saya, kenapa…" Elvina tiba-tiba berhenti setelah berbicara panjang lebar. Ia mendongak menatap ke arah tangan Leon yang kini mengapung di udara, tepat di atas kepalanya.
"Apa yang bapak lakukan?" Elvina menautkan alisnya.
"Sudah aku bilang di sini panas, aku hanya tidak ingin kau kepanasan." Leon berujar tanpa menoleh. Elvina dengan cepat menepis tangan Leon.
"Saya tidak perlu anda lindungi, lagipula saya sudah terbiasa dengan matahari." Elvina mengalihkan pandangannya. Leon terdiam, ia melirik pada Elvina yang kini sibuk menatap ke arah mobil yang melintas berlawanan dari arah mereka berdiam diri.
Kau begitu menggemaskan ketika menggerutu seperti tadi. Aku jadi semakin menyukaimu, batinnya. Leon tersenyum simpul.
...*...
"Kau baik-baik saja?" tanya Rei pada William yang baru saja tiba di hadapannya. Rei tampak sangat cemas, ia bahkan sampai menatap William dari atas sampai bawah berulangkali.
"Aku baik-baik saja. Itu semua berkat kau yang sudah memperingatiku tentangnya."
"Syukurlah, aku lega mendengarnya."
"Lagipula kau tidak perlu cemas karena seperti yang kau tahu, aku memiliki kemampuan untuk berlari secepat kilat. Jadi dia tidak akan mungkin bisa menangkapku."
"Ya, kau ada benarnya. Tapi kau bisa tenang karena aku sudah berhasil lari darinya. Omong-omong dimana El?"
"Elvina? Aku belum melihatnya sejak tadi, aku sempat mencarinya di tempat terakhir. Tapi tidak ada. Bahkan aku sudah berusaha mencarinya di segala tempat, tapi hasilnya juga sama saja."
"Benarkah? Aku juga tidak bertemu dengannya di sana, apakah jangan-jangan dia sudah pulang lebih dulu?"
"Kenapa tidak kau coba hubungi?"
"Oh, benar!" William segera mengeluarkan ponselnya yang berada di dalam tas pinggang kecil yang dipakainya. Ia segera mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi kakaknya, tapi begitu ia menyalakan ponselnya. Ia melihat pesan masuk yang di kirimkan oleh Elvina padanya.
"Lihat, sudah aku bilang dia pulang lebih dulu." William menunjukkan ponselnya pada Rei.
"Dia memiliki urusan yang berhubungan dengan pekerjaannya? Bukankah ini akhir pekan? Kenapa dia memiliki pekerjaan?"
"Entahlah, dia memang sesekali seperti itu. Kadang kalanya kalau akhir pekan seperti ini, bosnya masih selalu membutuhkannya." William memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Begitu rupanya."
"Sudahlah, jangan hiraukan dia. Sekarang kita pergi saja dari sini bagaimana? Kita pulang dan bermain game sepuasnya. Sudah sangat lama kita tidak bermain game bersamaan." William merangkul Rei.
...***...