Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 117 - Keputusan



...***...


William terdiam mendengar ucapan dari Elvina. Perasaannya campur aduk antara setuju dengan tidak setuju menjadi satu. Di sisi lain, William ingin menyetujui ucapan Elvina untuk mengantarkan Rei kembali ke rumah orangtuanya, di sisi lain pula ia tidak setuju dengan idenya karena takut apa yang dulu pernah terjadi, terulang kembali.


"Aku pikir, ini adalah satu-satunya cara terbaik agar Rei tetap aman dan agar Joe tidak dapat menemukan keberadaannya. Lagipula kalau Rei terus di sini, dia pasti akan merasa kesepian karena kita selalu pergi setiap hari dan baru memiliki libur setiap weekend. Kalau Rei kembali ke rumah, dia akan memiliki teman dan seseorang untuk diajaknya mengobrol sementara kita tidak ada." Elvina berusaha memberikan pengertian.


Elvina sendiri sebenarnya tidak ingin mengambil keputusan ini, apakah Rei baru saja kembali berkumpul dengannya. Namun ia lebih mencemaskan keselamatan Rei dibandingkan apapun.


"Kita bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengannya saat weekend." Elvina menambahkan.


William terdiam sejenak, ia tampak tengah berpikir sebelum memutuskan mana yang akan ia pilih.


William menghela napas berat setelah beberapa saat terdiam. Ia kemudian mendongak menatap kakaknya. Dengan ragu-ragu William berkata, "B… baiklah, kalau begitu aku setuju."


"Kalau begitu, besok kita pergi ke rumah Tante Isyana untuk mengantar Rei pulang."


"Besok? Kenapa begitu terburu-buru? Tidak bisakah kita menunggu sampai hari Minggu? Setidaknya, kita habiskan waktu bersama dengannya dulu sampai akhir pekan tiba."


"Tidak. Kita tidak bisa menunda-nunda hal ini, apalagi Joe sudah berusaha mengincarnya seperti tadi. Kalau kita menunggu sampai hari Minggu, takutnya Rei keluar seperti tadi dan membuat nyawanya terancam. Maka dari itu sebelum berangkat, kita antarkan Rei pulang dulu."


"Okay…" William menampakkan wajah murung.


"Kalau begitu ayo tidur, ini sudah sangat larut malam. Besok pagi kau harus pergi ke sekolah." Elvina mendorong tubuh William pelan, melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu samping.


"Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur." William meneguk kembali minumannya sebelum berlalu meninggalkan Elvina.



"Arghh!" Rei membuka kedua matanya spontan. Tubuhnya refleks bangun dan duduk di tempatnya.


Keringat dingin mengucur dengan wajah pucatnya. Mimpi yang sama, Rei memimpikan hal yang sama setiap malam. Tentang lelaki dan jarum suntik. Setelah itu seperti yang sudah-sudah, kepalanya terasa sakit.


Rei hanya bisa meringis menahan sakit seraya mengatur napasnya yang tak beraturan.


"Huft~" Rei menghela napasnya pelan begitu ia berhasil mengatur napasnya agar kembali seperti semula.


"Lagi-lagi mimpi yang sama," lirihnya pelan. Fokusnya beralih ketika Elvina datang dan mengetuk pintu kamarnya pelan.


"Rei? Kau sudah bangun?" teriaknya dibalik pintu sana.


Rei menoleh ke arah datangnya suara. Di balik pintu yang masih tertutup rapat itu, Elvina berdiri. Rei dapat melihat bayangan tubuh Elvina yang berdiri di depan pintu lewat celah di bagian bawah pintu kamarnya.


"Y… ya, aku sudah bangun."


"Kalau begitu cepatlah turun, kita sarapan bersama, dan… ada yang harus kita bicarakan."


"Soal apa?" Rei mengerutkan keningnya. Ia tidak ingat bahwa ada topik yang perlu mereka bahas.


"Kau akan tahu nanti. Aku tunggu kau di ruang makan."


"Baiklah," sahutnya. Bayangan tubuh Elvina di celah bawah pintu, menghilang bersamaan dengan suara langkah kaki yang didengarnya.


...***...