
...***...
"Huft~" Azura menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa yang tengah ia duduki dengan posisi kepala menengadah menatap langit-langit ruangan tempatnya berada.
Akan aku pastikan, kali ini aku menangkap mereka, ucapnya dalam hati.
Azura tersentak kaget saat secara tiba-tiba ia mendengar suara resleting yang terbuka, bersamaan dengan itu, ia merasakan sesuatu tengah bergerak meraba tubuhnya.
Azura menunduk, tidak ada siapa-siapa dihadapannya. Namun ia tahu betul siapa yang tengah berulah.
Tangannya bergerak meraih udara yang tengah bermain diantara alat vitalnya. Bersamaan dengan itu, sosoknya muncul. Sosok cantik yang tengah berjongkok disana, tepat di dekat miliknya.
"Kau nakal," tuturnya sambil beradu tatap dengan Melinda yang baru saja tiba.
Melinda merekahkan senyum. Ia bangun, berdiri dihadapannya. "Tapi kau menyukainya, 'kan?"
Melinda bergerak naik ke atas pangkuan Azura, menc**bunya dengan penuh gairah. Azura membalas setiap tindakannya, mengimbangi permainannya yang semakin membuat gairah dirinya meningkat.
...*...
Malam semakin larut. Jam di dinding bahkan telah menunjukkan pukul dua belas malam. Tepat tengah malam.
Sementara Rei dan William terlelap dalam tidurnya di kamar masing-masing, beda halnya dengan Elvina yang kini terjaga.
Ia sama sekali tidak dapat tidur, apalagi setelah mendengar penjelasan Rei saat di meja makan tadi. Elvina jadi mencemaskan Rei. Setelah kejadian tadi, dirinya jadi diliputi rasa takut.
Elvina takut Joe berusaha melukai Rei atau berusaha menangkapnya lagi seperti tadi.
Elvina menghela napasnya panjang. Pandangan matanya sejak tadi terus tertuju pada pemandangan taman di samping rumahnya.
Sudah hampir satu jam lebih Elvina berdiri diluar dengan piyama tidur merah mudanya. Berdiri di depan teras dengan pikiran yang di penuhi Rei dan segala kemungkinan yang terjadi, jika Rei bertemu dengan Joe lagi.
"El?" Suara William mengejutkan dirinya. Elvina menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati adiknya yang kini berjalan menghampirinya dengan segelas air ditangannya. "Kau sedang apa di sini?" tanyanya.
"Kau terbangun?" Elvina tak mengindahkan pertanyaannya.
"Iya. Aku terbangun karena haus. Kau sendiri kenapa di sini?"
"Aku tidak bisa tidur, dan aku kemari untuk mencari udara segar sekaligus berpikir."
"Berpikir? Tentang apa?" William meneguk air dalam genggamannya.
"Tentang Rei." Elvina mengalihkan pandangan ke arah lain, sedangkan William diam menunggu penjelasannya.
"Sepertinya akan lebih baik kalau kita mengantarkan Rei pulang kembali ke rumahnya," tutur Elvina pelan.
William tersedak mendengar ucapan kakaknya. Ia nyaris memuntahkan kembali sebagian minuman yang sudah berada dalam mulutnya.
William terbatuk. Elvina yang melihat adiknya tersedak, bergegas membantunya.
"Pelan-pelan kalau minum," tukas Elvina.
"Ucapanmu membuatku tersedak!" William meliriknya kesal. Ia terus menepuk-nepuk dadanya pelan. "Kenapa tiba-tiba?" tanya William kemudian.
Elvina terdiam sejenak sebelum menjelaskan. "Aku hanya mencemaskan keselamatan Rei. Kalau dia masih di sini, aku takut kejadian seperti tadi terjadi lagi sementara kita tidak di rumah."
"Bagaimana kalau setelah Rei pulang, dia pergi lagi seperti dulu? Aku tidak ingin kita berpisah lagi, apalagi setelah satu tahun kita berpisah akhirnya kita bisa bertemu dengannya dan berkumpul lagi."
"Itu tidak akan terjadi selama ingatan Rei belum kembali, dan selama Tante Isyana bersikap seolah apa yang terjadi dulu itu, tidak pernah terjadi," ucap Elvina.
...***...