Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 636 - Kemiripan



...***...


"Walaupun Yeon-woo sudah tidak bersekolah di sini lagi, tapi Sia harus tetap sekolah. Kalau tidak, mamanya Sia akan marah. Yeon-woo tidak ingin Sia sampai di marahi…" Yeon-woo memegangi pundak anak perempuan itu.


Sia terisak. Anak itu benar-benar tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian memeluk Yeon-woo erat.


"Sia benar-benar menyayangi Yeon-woo. Yeon-woo adalah sahabat terbaik Sia…"


"Sia juga adalah sahabat terbaik Yeon-woo. Yeon-woo sayang Sia." Yeon-woo balas memeluk Sia. Tangannya secara perlahan mengusap punggung anak perempuan itu, berusaha untuk menenangkannya.


"Sudah ya, berhenti menangis. Yeon-woo janji, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi."


Sia menganggukkan kepalanya. Ia mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Jangan sedih lagi, nanti Yeon-woo juga ikut sedih kalau melihat Sia sedih."



"Kalau begitu, sebelum Yeon-woo benar-benar pergi dan tidak bisa bertemu lagi dengan Sia… Sia mau Yeon-woo mengabulkan satu permintaan Sia." Anak perempuan itu merogoh sesuatu dari dalam kantong pakaian yang dikenakannya. Secarik kertas kecil berbentuk persegi panjang. Bentuknya benar-benar seperti sebuah kupon.


"Sia mau menggunakan kupon permohonan terakhir yang Yeon-woo berikan," ujarnya.


"Baiklah, katakan apa yang Sia minta?" Yeon-woo mengambil kupon yang diberikannya.


"Suatu saat nanti. Kalau sudah besar, menikahlah dengan Sia. Sia sangat menyayangi Yeon-woo, dan dia tidak ingin ditinggalkan Yeon-woo lagi."


Yeon-woo terdiam sambil memperhatikan Sia.


"Tidak bisa," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Kalau sudah besar nanti, Sia harus menikah dengan orang yang Sia cintai. Maaf, tapi Yeon-woo tidak bisa mengabulkan permintaan Sia yang ini. Mintalah sesuatu yang lain."


"Ya sudah, kalau begitu Yeon-woo harus mencintai Sia kalau sudah besar nanti agar kita bisa menikah… pokoknya janji!" Sia mengulurkan tangannya dengan jari kelingking yang mengacung.


"Jadi Yeon-woo tidak mau bersama Sia selamanya?"


"Bukan begitu."


"Kalau begitu janji!"


"Baiklah, aku berjanji…" Yeon-woo mau tidak mau akhirnya mengulurkan tangannya dan menautkan jari kelingking mereka. Mengucapkan janji kelingking, sama seperti yang selalu mereka lakukan ketika berjanji.


Louis tertegun. Entah kenapa, tapi ia merasakan sebuah aura yang tak biasa. Ia seolah merasa Dejavu dengan aura yang dirasakannya ini.


"Aku tidak tahu kenapa, melihat mereka membuatku teringat akan tuan dengan gadis pemarah yang dulu sempat tidak sengaja bertemu dengan tuan. Siapa namanya ya…?" Louis mengerutkan kening. Berusaha mengingat-ingat kembali nama perempuan yang dulu sempat bertengkar dengan Rei. Perempuan itu memiliki aura yang sama dengan Kim Sia.


"Sia!" Teriakan seorang perempuan membuyarkan lamunan Louis. Begitu mendengar nama itu, Louis seketika teringat akan namanya.


"Oh, benar! Namanya Lusia! Tapi tunggu." Louis membelalakkan mata.


Apakah jangan-jangan…


Louis mengalihkan perhatiannya pada Yeon-woo di sana.


Tuan…


Louis benar-benar tidak percaya. Dia baru sadar dengan situasinya. Tentang anak laki-laki yang kini berada dihadapannya, dan tentang segala kemiripan yang dia temukan.


Saat sedang menatapnya, tiba-tiba saja Yeon-woo menoleh ke arah dimana dirinya berada. Sejenak, Louis merasa seolah pandangan mata mereka saling bertemu satu sama lain. Tapi, tentu saja tidak mungkin. Karena tidak ada yang bisa melihatnya.


...***...