Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 306 - Penjelasan Rei



...***...


"Aku benar-benar emosi karena melihatmu dan Fandy melakukan gegat aneh. Aku kira… kau dan dia, melakukan ciuman," gumam Lusia. Ia berbicara tanpa mau beradu tatap dengan Rei.


Rei cukup terkejut dengan apa yang terlontar dari mulut Lusia. Ia hanya tidak habis pikir kenapa Lusia bisa berpikir seperti itu.


"Kenapa kau berpikir begitu? Apakah karena kau terus terpikirkan artikel, jadi kau curiga denganku dan Fandy memiliki hubungan?"


"Jujur saja. Memang iya, aku berpikir begitu. Apalagi, pertama, sejak pertemuan terakhir kita, kau mendadak tidak bisa aku hubungi sama sekali selama tiga hari. Lalu kedua, saat aku ingin bicara denganmu kau terkesan menghindariku. Tadi pagi saja kau bahkan datang terlambat dan tidak seperti biasanya, kemudian saat bel berbunyi kau tiba-tiba bergegas pergi seolah tidak ingin menghabiskan waktu denganku, dan yang ketiga, aku tiba-tiba melihatmu dengan Fandy sedang berduaan di belakang sekolah."



Lusia mendongak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana mungkin aku tidak curiga denganmu?"


"Biar aku jelaskan semuanya padamu secara perlahan-lahan. Saat pertemuan terakhir kita, aku mengalami kecelakaan dan ponselku hilang…"


"Apa?! Kau kecelakaan? S… sungguh? Dimana yang terluka? Apa yang lecet?" Lusia memotong ucapan Rei, ia panik dan segera mengecek tubuh kekasihnya memastikan tak ada luka serius pada tubuhnya.


"Kau tidak perlu cemas karena itu hanya kecelakaan kecil, dan aku baik-baik saja." Rei berusaha menenangkan.


"Syukurlah. Jadi itu alasanmu tidak bisa aku hubungi?" Lusia menghela napas lega.


"Ya. Sebenarnya aku sudah membeli ponsel baru dan aku hendak menghubungimu, tapi aku benar-benar tidak ingat nomormu, Heru, Gloria, ataupun teman-teman lain. Maka dari itu aku belum mengabarimu sama sekali.…"


"…Lalu alasan kenapa aku terlambat hari ini karena sepupuku mengalami kecelakaan saat hendak pergi ke kantornya. Keluarganya tinggal di luar kota dan aku adalah orang yang dekat dengannya, maka dari itu aku datang untuk membantunya walaupun pada akhirnya aku terlambat datang ke sekolah.…"


"M… maksudmu, orang yang berusaha mencelakaimu itu…"


"Fandy. Dia tidak terima kau jadian denganku, maka dari itu dia memikirkan cara agar aku bisa berpisah denganmu. Salah satu caranya adalah dengan membuatku celaka. Tadi aku hampir akan memukulnya, tapi aku menahan diri karena tidak ingin membuatmu cemas."


"A… aku benar-benar tidak tahu kalau masalahnya serumit ini. Aku benar-benar minta ma…"


Tanpa aba-aba lebih dulu. Rei menarik tengkuknya, menyumpal mulutnya dengan bibirnya.


Lusia terkejut. Ia sampai membatu sesaat, sebelum kemudian ikut terhanyut dalam ciuman yang Rei berikan padanya.


Tidak hanya tinggal diam. Lusia membalas setiap ciuman yang Rei lakukan.


Lusia mendorong dada Rei saat ia mulai merasa tak sanggup lagi. Keduanya lagi-lagi terdiam dengan mata yang saling beradu dalam jalan yang begitu dekat.


"Hanya ini cara agar kau mau berhenti mengucapkan kata 'maaf,'" bisik Rei.


Wajah Lusia merona. Ia sungguh kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan Rei.


Satu fakta yang ia ketahui, memang cara yang ia lakukan berhasil membuatnya berhenti mengucapkan kata 'maaf.'


Lusia memalingkan wajahnya.


...***...