
...***...
"Jadi, bagaimana kabarmu?" Cato kini duduk berhadapan dengan Lusia, masih di tempat yang sama dan di rumah yang sama.
"Aku baik. Bagaimana dengan kakek sendiri? Sudah lama aku tidak bertemu dengan kakek."
"Kakek baik. Memang sudah lama kita tidak bertemu."
"Itu karena kakek terlalu sibuk dengan pekerjaan kakek di London, tahun lalu bahkan kakek tidak datang di hari peringatan meninggalnya kakek pertama."
"Iya. Kakek benar-benar minta maaf, saat itu kakek sedang mengurus masalah pada proyek yang berkaitan dengan bisnis sampingan kakek. Maka dari itu, kakek tidak bisa datang."
"Begitu rupanya, pantas saja kakek tidak datang."
"Tahun lalu, kakek memulai proyek besar, dan sempat mengalami masalah yang cukup serius. Bahkan sampai saat ini, kakek berusaha untuk memperbaiki masalahnya."
"Benarkah? Aku harap masalahnya cepat selesai."
"Ya. Omong-omong kapan kau akan datang mengunjungi kakek di London? Kita bisa menghabiskan waktu bersama di sana, dan pergi ke tempat-tempat yang indah. Seperti kita bisa pergi ke Big Ben, Trafalgar Square, atau ke tempat-tempat wisata lain."
"Mungkin lain kali, karena aku masih sekolah seperti biasa."
"Begitu rupanya. Kalau begitu bagaimana dengan libur semester? Kita bisa menghabiskan waktu bersama saat libur semester."
"Ide yang bagus. Kita ajak Justin, Aura, dan yang lainnya juga."
"Ya. Lebih ramai, akan lebih seru."
"Aku sudah tidak sabar jadinya." Lusia terkekeh pelan. Entah kenapa mendengar ide dari kakek ketiganya membuat semangat liburannya tiba-tiba memuncak hingga ke ubun-ubun kepalanya.
Cato hanya bisa tersenyum memandangi Lusia lekat. Senyuman itu, adalah senyuman yang selama ini ia rindukan dari cucunya yang satu ini.
...*...
Drap! Drap! Drap!
Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Napas tersengal, debar jantung tak beraturan, dan kaki yang terus melangkah secepat mungkin, terjadi beriringan.
"Berhenti di sana!" teriak salah satu lelaki di belakang sana.
Pria itu menoleh sekilas ke arah datangnya suara sebelum terus berlari sekencang-kencangnya.
Aku tidak boleh sampai tertangkap! Hanya itu kalimat yang terus terngiang dalam benaknya saat ini. Bergaung selama lebih dari setengah jam semenjak pertemuan pertamanya dengan mereka.
Sekelompok lelaki berlari mengejar seorang lelaki lain dengan rambut hitam dan wajah tampan.
Ia terus berlari, melakukan parkour berulang kali guna menghindar dari kejaran mereka.
Sialnya mereka terus bergerak tanpa peduli apa rintangan yang tengah mereka hadapi.
Tak jarang, beberapa di antara lelaki di belakangnya terus menyerangnya dengan kemampuan yang ia miliki.
Brukk!
Pria itu mendarat di atas tong sampah besar, kemudian berguling dan berlari lagi dengan sekuat tenaganya.
"Apapun yang terjadi, kita harus menangkapnya hari ini juga!" Satu pria menekankan.
Mereka melompat dari atas jalan kemudian turun ke jalan di bawah mereka mengikuti gerak pria tadi.
Hujan yang deras tak membuat langkahnya terhenti, bahkan jalanan yang tampak berkabut karena titik-titik cipratan air sama sekali tak diindahkannya.
Hari semakin sore, dan dalam beberapa saat lagi, malam akan tiba. Bahkan siang akan berganti peran dengan malam.
Pria itu berlari hingga tiba di jalan raya yang cukup ramai. Ia berhenti sejenak sebelum melintas ke seberang jalan lainnya.
"Berhenti kau!" Lelaki dibelakangnya kembali berteriak ke arahnya.
...***...