Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 392 - Kau Liana?



...***...


"Long time no see, Leon," ujar Lucy sembari menepuk pelan pundaknya.


Leon mengerutkan keningnya. Kedua matanya masih menatap Lucy dengan pandangan tak bersahabat.


Lucy beralih hendak mengusap wajahnya. Tapi Leon lebih dulu menahan tangannya. Ia mencengkram pergelangan tangan Lucy sebelum sempat wanita itu menyentuhnya.


"Don't touch me!" katanya penuh penekanan sembari mencengkramnya erat.


Lucy menyeringai mendengar kalimat yang terucap dari mulutnya.


"Kenapa tidak boleh? Aku bisa menyentuhmu sesukaku, karena kau adalah Leon ku."


"Apa? Berani sekali kau bicara seperti itu!"


"Kau tidak suka?"


"Aku akan membawamu ke kantor polisi karena kau sudah berani membuat kekacauan di kantorku dan menyerang para pegawaiku." Leon baru hendak menarik tangan Lucy keluar dari kantornya. Namun Lucy lebih dulu memutar tangannya, memelintir tangan Leon hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Kau tidak akan bisa melakukan itu padaku." Lucy tersenyum simpul.


"Arghh!" Leon berusaha membebaskan diri, ia menggunakan tangannya yang lain untuk menyerang Lucy. Memukulnya dengan tangan lain, tapi Lucy lebih dulu menangkap pukulannya.


Lucy memutar kedua tangan Leon yang berada dalam genggamannya hingga tubuh pria itu berputar dan spontan terjatuh.


Brukk!


Tubuhnya menyentuh lantai dengan sangat kasar. Leon mengerang menahan sakit.


Lucy berdiri tegap dengan kedua tangan yang bertolak pinggang.


"Kau tidak akan bisa melawanku," ujar Lucy sembari menatap Leon yang begitu kesakitan di bawah sana.


"Berani kau menyerangku." Leon bangun tertatih.


"Kenapa aku harus takut? Kalau perlu, aku akan menyerangmu hingga kau menangis. Karena kau sudah berani akan melaporkanku pada polisi."


"Aku tidak akan menangis!" tukas Leon dengan wajah kesal.


"Benarkah? Aku ragu," ledeknya.


Lucy lebih dulu bergerak, melayangkan satu tendangan yang dalam sekejap membuat tubuh Leon berputar di udara dan jatuh ke arah sofa.


"Arghh…" Leon memegangi perutnya yang terasa sakit. Ia berbalik dan menatap pada Lucy.


"Ayo menangislah! Menangis anak cengeng!" Lucy memicu Leon semakin emosi.


"Apa kau bilang?!" Leon kesal bukan main. Ia benci dengan ledekan Lucy.


"Dasar cengeng!" tukas Lucy.


"Cengeng kau bilang!"


"Ya, dasar cengeng!" Lucy menekan kalimatnya.


Leon tertegun. Ia mengerutkan kening, dengan mulut tak berkata-kata.


"Tunggu. Apa?" Leon merasa ucapan Lucy terdengar familier. Ia merasa pernah mendengar ucapan itu terlontar dari mulut seseorang. Leon berusaha mengingat-ingat lagi.


Kenapa aku merasa familier dengan perkataannya? batin Leon. Ia beradu tatap dengan Lucy yang berdiri tegap dengan sebelah sudut bibir yang terangkat membentuk seringai.


Lucy tahu kalau Leon mulai ingat sesuatu.


Wajah cantik, mata biru yang indah, kulit putih yang bersih, dan rambut pirangnya, seketika membuat Leon sadar siapa yang ada dihadapannya.


"Liana?" Leon bangun dengan susah payah.



Seringai Lucy seketika sirna saat Leon menyebut nama aslinya.


Lucy terdiam dengan kepala tertunduk, hatinya mencelos. Untuk pertama kalinya nama itu terdengar lagi setelah nyaris bertahun-tahun lamanya tak pernah ada yang mengucapkannya. Matanya berkaca-kaca, ingatannya seketika melayang, teringat akan mendiang kedua orang tuanya yang mati terbunuh di tangan Beatrix.


"Kau Liana?" Leon merekahkan senyum setelah berhasil bangun. Ia melangkah mendekat ke arahnya.


Lucy menggeleng pelan, bukan saatnya mengenang masa lalu. Ia merekahkan senyum lalu mendongak menatapnya.


"Ya, ini aku. Liana."


...***...