Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 564 - Wanita dibalik pintu



...***...


"Apa maksudmu?" Lucy dan Aland meminta penjelasan.


"Rei, kau masih ingat dengan ceritaku dan William mengenai cara kita bisa keluar dari pulau itu dan lolos dari kejaran para evolver penjaga kan?" tanya Elvina.


Rei terdiam sejenak. Tapi tak lama, ia ingat dengan cerita yang dimaksudnya.


"Oh… aku mengerti. Kabut…"


"Yeah, ini adalah kabut yang sama dengan apa yang kami ceritakan."


"Itu artinya…"


"Wait! Wait! What's going on? Rei, explain me!" Lucy masih berusaha mencari tahu apa yang mereka bicarakan sejak tadi.


"Elvina dan William pernah bercerita, mereka berdua bisa bebas dari pulau itu dan lolos dari kejaran para evolver penjaga setelah mereka melewati kabut," jelas Rei dalam bahasa Inggris.


"Tunggu, apa?"


"Jadi maksudmu… kita berada di kabut itu?" tanya Aland.


"Yeah." Elvina dan William menganggukkan kepala mereka serentak begitu mendapati tatapan dari Aland.


"Jadi itu artinya kabut ini adalah gerbang menuju tempat yang selama ini kita cari?" gumam Lucy.


"Yeah…"


...*...


Wanita itu terdiam di depan sebuah pintu yang sejak tadi mengeluarkan suara bising di dalamnya. Ia bergerak mendekat ke arah pintu lalu mendorongnya secara perlahan.


Pintunya tidak terbuka sama sekali. Seolah ada sesuatu yang menahan pintu itu untuk terbuka.


Sepertinya barang-barang di dalam berhamburan dari tempatnya akibat guncangan barusan. Maka dari itu pintunya tidak bisa di buka, pikir wanita itu. Ia kemudian berjongkok, mensejajarkan pandangannya pada lubang kunci yang terdapat pada pintu.


Begitu mengintip ke dalam, wanita itu melihat sekelompok orang yang tengah berkumpul bersama. Orang-orang asing yang entah sejak kapan berada di dalam sana.


Entah kenapa tapi aku merasa tidak asing dengan lelaki itu, batinnya. Wanita itu terus memperhatikannya. Sampai kemudian, lelaki itu bergerak. Ia menoleh ke arah pintu yang tertutup.


Wanita itu membelalakkan mata. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


D-dia…



...*...


"Kau baik-baik saja?" Melinda mendekat ke arah Andrich. Setelah guncangan yang cukup kuat barusan, mereka berdua sampai terjatuh dan terseret hingga tubuh mereka menghantam dinding dengan cukup kuat.


"Aku baik-baik saja," gumam Andrich sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Melinda beranjak bangun. Masih dengan sebelah tangan mereka yang saling terikat dengan borgol, Melinda membawa Andrich menuju ranjang yang ada guna memastikan keadaannya.


"Kau yakin baik-baik saja? Kepalamu tadi sempat berbenturan dengan dinding. Aku cemas kepalamu kenapa-kenapa."


"Aku sungguh baik-baik saja," lirih Andrich. "Lebih baik kau cemaskan dirimu."


Andrich meraih tangan Melinda. Tangan wanita itu berdarah karena permukaan kulitnya tergores oleh borgol yang sejak tadi terpasang ditangan mereka.


"Lihat?"


"Shh…" Melinda meringis menahan sakit ketika Andrich tiba-tiba saja memegangi tangannya.


"Kau sampai berdarah."


"Biar aku atasi ini sendiri." Melinda berusaha menarik tangannya. Tapi Andrich justru malah menahan dan menggenggamnya.


Melinda terdiam. Lelaki itu tiba-tiba saja menjilat bagian luka pada pergelangan tangannya. Hal itu berhasil membuat Melinda membatu.


...***...