
...***...
Pricilla mengendap-endap menuju garasi, di sana ia melihat garasinya sudah dalam keadaan aman. Semua orang yang datang mencarinya sudah masuk ke dalam rumah.
Aku harus segera pergi dari sini, dan temui Derek, pikirnya yang cepat-cepat menghampiri salah satu mobilnya dan masuk ke dalam sana.
Pricilla melajukan mobilnya keluar dari garasi.
"Dia di sini!" teriak salah satu yang berada di lantai bawah. Pricilla tersentak, ia menoleh ke arah datangnya suara dan spontan menginjak pedal gas hingga membuat mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.
"Kejar!" pekik yang lain sembari berlari mengejarnya.
Keringat dingin mengucur membasahi keningnya. Jantung yang memburu dengan perasaan tidak tenang yang terus menggerayangi, membuat Pricilla seakan-akan menjadi seperti seorang kriminal yang baru saja melarikan diri dari penjara.
Ketakutan. Itulah yang dapat ia rasakan saat ini, yang ia takutkan hanyalah keselamatannya. Ia takut kalau mereka berhasil menangkapnya lalu membunuhnya. Ia belum siap untuk mati muda, terlebih karirnya baru saja bersinar, dan ia belum menikah.
Kakinya menginjak pedal gas, memacu mobilnya lebih cepat menuju penginapan yang di tempati oleh Derek.
Pricilla menggunakan mobil lain. Ia meninggalkan mobil yang berhasil mereka lacak di dalam garasi dengan menghiraukan rumahnya yang dalam keadaan tidak terkunci sama sekali.
Aku harus segera menemuinya! Kalimat itu bergaung dalam otaknya sejak beberapa detik yang lalu.
Tiba di penginapan. Pricilla segera memarkirkan mobilnya sembarang. Ia segera keluar dan berlari ke arah kamar Derek.
Brakk! Brakk! Brakk!
Ketukannya pada pintu sama sekali tidak bisa santai, kepanikan yang melandanya sudah mulai menjalar pada setiap tindakannya yang tidak bisa bersikap tenang.
Pintu terbuka dan menampakkan lelaki yang kini mengenakan jas lab berwarna putihnya.
"Apa yang kau laku…"
"Apa?!"
"M… mereka baru saja tiba di rumahku dan berusaha untuk menangkapku! Aku benar-benar takut." Pricilla menggenggam kedua tangannya yang gemetar hebat.
"Mereka bergerak lebih cepat dari yang aku duga," gumam Derek.
"Jangan diam saja! Lakukan sesuatu. Aku tidak ingin tertangkap, aku masih ingin hidup!" Paniknya.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain."
"Apapun pilihan terakhirnya, aku akan ikut denganmu. Biarkan aku ikut kemanapun kau akan pergi! Aku tidak peduli dengan karir dan kehidupanku di sini. Yang terpenting untukku sekarang adalah aku bisa tetap hidup! Itu saja. Jadi bawa aku, selamatkan aku." Pricilla meraih tangan Derek dan menggenggamnya, kedua matanya menatap penuh harap pada sang empu yang kini beradu tatap dengannya.
"Kalau begitu tunggu di sini. Malam ini juga kita pergi." Derek masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas yang sudah ia persiapkan.
Tidak lama, ia kembali dan segera membawa Pricilla untuk keluar. Derek segera melunasi semua biaya penginapan dan segera membawanya untuk pergi.
"Kau akan pergi dengan berpakaian seperti ini?"
"Aku terburu-buru tadi, tapi aku membawa baju ganti di mobil."
"Kau bawa mobil?" Derek membulatkan mata.
"Ya. Di sana!" Pricilla menunjuk ke arah mobil berwarna silver miliknya.
Derek segera menghampiri mobilnya dengan Pricilla. "Ayo masuk dan kita pergi ke bandara sekarang juga."
Pricilla masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi dengan di ikuti oleh Derek yang mengambil duduk di sampingnya.
...***...