Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 94 - Menyerah



...***...


Elvina menghentikan laju mobilnya di depan rumah besar nan mewah yang tak lain adalah rumah tantenya. William di sampingnya. Mereka datang kemari untuk menjemput Indri yang tengah berkunjung ke sana.


Elvina dan William melangkah keluar dari dalam mobil. Ada sesuatu yang menyita perhatian mereka sejak kedatangan mereka.


"Polisi, apakah jangan-jangan, Rei sudah ditemukan?" William merekahkan senyum.


"Ayo kita cek," tutur Elvina. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah.


Tiba di dalam sana, Elvina mendapati Indri yang tengah berdiri bersama tantenya. Berbicara dengan beberapa orang polisi yang ditugaskan untuk melakukan pencarian terhadap Rei.



"Kami benar-benar meminta maaf harus mengatakan ini. Tapi, kami benar-benar tidak bisa melanjutkan pencarian ini. Kami sudah melakukan pencarian sebisa mungkin, namun hasilnya… kami tidak dapat menemukan putra ibu dimana pun," ujar si polisi.


Elvina dan William membatu ditempatnya mendengar apa yang baru saja dilontarkan si polisi.


Tantenya bahkan nyaris pingsan. Beruntung Indri dengan cekatan menangkap tubuhnya.


Tidak bisa dipercaya. Mereka benar-benar tidak bisa percaya kalau polisi pada akhirnya angkat tangan dengan kasus ini.


"Sekali lagi, kami benar-benar meminta maaf," ujarnya.


"Kenapa kalian berhenti? Aku mohon, jangan menyerah sebelum kalian menemukan anakku." Wanita yang menjadi mamanya Rei, menangis.  Mendengar apa yang baru saja diucapkan polisi.


"Kami benar-benar minta maaf. Tapi, kami sudah melakukan pencarian lebih dari satu Minggu dan kami bahkan tidak bisa menemukan keberadaannya dimana pun. Kemungkinan anak ibu melarikan diri dan bersembunyi di salah satu orang yang dia kenal."


"Kalau tidak, kemungkinan terburuknya… anak ibu sudah meninggal," gumam salah satu polisi.


"Sekali lagi kami minta maaf. Kalau begitu, kami pamit." Polisi itu beranjak meninggalkan mereka berdua.


Elvina dan William masih diam membatu di tempatnya. Mata mereka berdua berkaca-kaca mendengar pembicaraan mama dan tantenya.


"Sekarang bagaimana? Polisi saja bahkan sudah menyerah untuk menangani kasus ini." William berucap lirih sembari memandang Elvina.


Elvina hanya diam bergeming. Kepalanya tertunduk dengan air mata yang terus berusaha menerobos air matanya. Elvina mengepalkan kedua tangannya erat.


"Tidak bisa! Mereka tidak boleh menyerah sekarang!" Elvina mendongak menatap William sekilas sebelum melenggang cepat mengikuti polisi yang hendak pergi meninggalkan tempat mereka.


"El! Apa yang akan kau lakukan?" William bergegas mengikuti kakaknya dari arah belakang.


Elvina menghampiri polisi tadi dan berdiri di hadapan mereka. Menahan kepergian mereka berdua.


"Aku mohon, kalian jangan berhenti sekarang!" tuturnya. Kedua polisi itu mendongak menatap Elvina yang baru saja menghentikan langkah keduanya.


"Maaf, tapi kami sudah berusaha sebaik mungkin, dan hasilnya… kami tidak bisa menemukannya."


Elvina meneteskan air matanya. Cairan bening itu melintas turun membasahi kedua pipinya.


"Aku mohon, jangan menyerah sekarang. Aku mohon, temukan Rei. Temukan sepupuku." Elvina memohon.


"El, apa yang kau lakukan!" William menarik tubuh kakaknya. "Mereka sudah berkata kalau mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mereka sudah berusaha sebaik mungkin," ujar William berusaha menenangkan kakaknya.


...***...