Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 663 - Diam di antara ramai



...***...


"Kalau kau punya masalah dalam pekerjaanmu, katakan padaku. Mungkin aku bisa membantu." Dorothy berusaha membuatnya bicara.


"Aku sungguh tidak apa-apa. Omong-omong aku sudah kenyang, bolehkah aku pergi lebih dulu, karena ada hal yang harus aku kerjakan?" Cato beranjak bangun dari tempat duduknya dan pergi dari meja makan. Meredith dan suaminya hanya bisa mempersilahkan lelaki itu pergi, sementara Dorothy hanya bisa diam termangu tanpa kata sembari memperhatikan suaminya yang terus melangkah. Semakin jauh dari tempat mereka berada.


Tidak seperti biasanya dia begini, pikirnya. Dorothy mengalihkan perhatiannya pada Joe dan Derek yang duduk tepat bersebelahan dengannya. Kedua putranya tengah asyik bercerita sambil sesekali terkekeh saat mereka menceritakan sebuah cerita lucu untuk satu sama lain.


"Joe..." Dorothy memanggil anak pertamanya penuh kelembutan. Ada yang harus dia pastikan mengenai suaminya, dan satu-satunya orang yang bisa dia tanyai mengenai ini hanyalah Joe. Karena bagaimanapun Joe dan Derek adalah orang pertama yang pulang dan bertemu dengan Cato sebelum anggota keluarga lainnya.


"Iya, ma?"


"Apakah kau tahu papa kenapa?"


"Papa?" Joe mengerutkan kening. Dia bingung dengan pertanyaan Dorothy, karena seingatnya Cato tidak kenapa-kenapa. Dia hanya bersikap tidak seperti biasanya. "Memangnya... papa kenapa?"


"Papa bersikap aneh, tidak seperti biasanya. Apakah kau tahu kenapa? Kau dan Derek kan adalah orang pertama yang bertemu dengan papa sebelum mama dan yang lain. Apakah papa sejak tadi bersikap aneh?" Dorothy berusaha memperjelas pertanyaannya agar Joe mengerti kemana arah pembicaraannya. Joe terdiam sejenak. Keningnya berkerut, pertanda anak itu tengah berpikir. Joe berusaha untuk mengingat-ingat kembali apakah sikap ayahnya benar-benar aneh atau tidak seperti yang Dorothy katakan.


"Tidak. Seingatku papa tidak bersikap aneh. Ketika aku pulang dengan Derek, papa baik-baik saja. Bahkan papa bersikap seperti biasanya. Papa bekerja dan setelah itu makan siang bersama Lusia. Begitu kami pulang, kami langsung bermain bersama Lusia."


"Setelah kami pulang dan kami bermain dengan Lusia, mama dan papanya Lusia pulang setelah itu papa berpamitan!" jawab Derek yang tiba-tiba itu memberikan penjelasan.


"Oh benar! Papa berpamitan, katanya papa ingin bertemu dengan temannya. Om Miles dan Martin di laboratorium mereka. Papa bilang sudah lama papa tidak bertemu dengan mereka setelah proyek papa yang terakhir di Manchester. Aku baru ingat, setelah itu sikap papa jadi sedikit aneh." Joe menimpali.


Apakah jangan-jangan masalah ini ada hubungannya dengan mereka? Dorothy membatin.



...*...


Atensi Cato beralih ketika dia mendengar suara Lusia yang tengah merengek di dalam rumah. Begitu menoleh ke arah datangnya suara, dari jendela, dia bisa melihat anak berusia tiga tahun itu berusaha untuk di tenangkan oleh kedua orangtuanya yang mencoba mengajaknya tidur. Sementara itu Lusia tampak menolak karena masih ingin bermain dengan Derek dan Joe.


Lagi-lagi ketika melihat Lusia, Cato teringat akan sosok Claire. Terlebih hal yang membuatnya terus teringat padanya adalah karena ketika sidang terakhir di Indonesia, usai persidangan wanita itu menggendong cucunya dengan begitu gembira karena telah dinyatakan menang atas semua hak waris tanah yang ditinggalkan mendiang kakak pertamanya.


...***...