
...***...
"Padahal ini kali pertama om berkunjung kemari setelah satu tahun tak bertemu." Wendy murung.
"Mungkin di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi."
"Ya, semoga."
"Kalau begitu om pergi dulu."
"Hati-hati di jalan."
"Sampai jumpa."
Cato menghampiri mobilnya dan segera melajukan mobilnya. Ia harus secepatnya mengatasi masalah yang terjadi di tempatnya bekerja.
...*...
Lusia masih duduk termenung. Pandangannya masih sama seperti jam-jam sebelumnya, hanya menatap keluar jendela dengan rasa penasaran akan kemana perginya Rei yang mendadak tak ada kabar sama sekali.
Saat ini Lusia berada dalam mobil, sedang dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta bersama dengan keluarganya.
Kedua orang tua Lusia sedang sibuk mengobrol bersama, sementara Lusia tak ikuti dalam pembicaraan mereka.
Brakk!
Mendadak ayahnya menginjak rem, membuat Lusia nyaris terhantup jok di depannya.
"Astaga, aku menabrak seseorang," ujar ayahnya panik.
"Apa? Ayo kita cek!" Meredith keluar bersama suaminya dan Lusia guna mengecek orang yang baru saja mereka tabrak.
Seorang pria, terjatuh dihadapan mobil mereka dalam posisi terbaring. Meredith segera menghampiri lelaki itu guna memastikan keadaannya.
"Kau tidak apa-apa? Pak?" Meredith menepuk-nepuk wajahnya pelan.
Lelaki itu membuka mata. Namun wajahnya kembali panik saat ia ingat apa yang sedang dilaluinya saat ini.
"Apakah anda yakin baik-baik saja?" teriak Meredith memastikan. Lelaki itu sudah lebih dulu berlari meninggalkan Lusia dan keluarganya.
Ia berlari sekuat tenaga hingga sosoknya hilang dari pandangan mereka.
Tidak beberapa lama kemudian, beberapa pria lain berlari dari arah yang sama dengannya. Mereka berlari mengejar pria yang baru saja mereka tabrak.
"Apa itu? Apakah dia seorang pencuri? Kenapa dia di kejar-kejar seperti itu?" Meredith bergumam pelan.
"Sudahlah, kita tidak perlu ikut campur dengan urusan orang lain. Yang terpenting sekarang lelaki itu baik-baik saja. Kita juga harus pulang, kan?" Suaminya menyahut.
Pria itu masuk dan duduk lagi di kursi pengemudi. Lusia dan Meredith masuk lalu duduk di tempatnya masing-masing.
Sejurus kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.
...*...
Pria itu terus melangkah menyusuri jalanan yang basah karena hujan deras.
Aku sudah tidak kuat, batinnya yang tenaganya semakin lemah. Kakinya terasa sangat berat karena berlari sejak tadi.
Brukk!
Tubuhnya tersungkur di tanah saat secara tak sengaja menyandung sesuatu.
Beberapa orang lelaki di belakang sana, berusaha mencari pria itu untuk menangkapnya.
Pria itu berusaha untuk bangkit, namun gagal. Tubuhnya benar-benar sudah tidak bertenaga lagi.
Aku tidak ingin tertangkap. Pria itu bergerak dengan sikunya. Pergerakannya berhenti ketika perhatiannya di sita sepasang sepatu yang berdiri di hadapannya.
Pria itu mendongak menatap si pemilik sepatu dihadapannya. Seorang pria dewasa berdiri dihadapannya dengan mengenakan stelan jas yang tampak begitu rapi. Di tangannya, ia menggenggam payung yang membuatnya terhindar dari air hujan yang mengalir menerjang bumi.
Pria itu berjongkok melihat lelaki di bawah kakinya. "Kau kenapa?" tanya pria itu dengan suara yang begitu tenang.
"Tolong! Tolong aku, beberapa orang berusaha menangkapku. Sembunyikan aku! Tolong sembunyikan aku agar mereka tidak bisa menangkapku. Aku tidak ingin ikut dengan mereka," ujarnya memohon dengan suara lirih.
...***...