Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 276 - Pajak jadian!



...***...


"Kalian dengar itu? Kami resmi berpacaran!" Leon berteriak kencang pada langit.


"A… apa yang kau lakukan." Elvina spontan bangun saat Leon meneriakkan namanya. Wajahnya merah merona.


"Aku sangat senang." Leon hanya tersenyum ke arahnya.



...*...


"Baiklah, kalau begitu selamat malam."


"Selamat malam."


"Sampai jumpa besok di kantor."


"Ya." Elvina mengangguk pelan. Ia lalu berbalik meninggalkan Leon yang kini berdiri di depan rumahnya.


Elvina melangkah masuk, menutup pintunya rapat. Tak lama, Leon beranjak menghampiri mobilnya. Melajukan benda itu menuju rumah.


Rasa lelah telah mengerayanginya sejak beberapa saat yang lalu.


Elvina terdiam bersandar pada pintu masuk yang baru di tutupnya. Rasanya seperti mimpi ketika akhirnya, status mereka benar-benar beralih dari sebatas atasan dan bawahan, menjadi sepasang kekasih.


Elvina melangkah masuk. Ia berjalan menuju ruang tengah. Di sana, William sedang duduk sambil menonton televisi.


"Kau sudah pulang?" sapanya begitu melihat kakaknya itu pulang dengan wajah sumringah.


"Ya. Kau belum tidur? Ini sudah malam, besok kau harus sekolah."


"Sebentar lagi. Omong-omong bagaimana kencannya? Apakah semuanya berjalan lancar?"


Elvina hanya mengangguk pelan dengan wajah tersipu. "Benarkah? Lalu bagaimana hasilnya? Apakah kalian sudah jadian?"


"Begitulah. Kenapa kau sangat penasaran dengan kehidupanku?"


"Kau berbicara seolah-olah aku dan dia akan menikah! Status kami baru saja pacaran!"


"Memangnya kau tidak berniat untuk menikah dengannya?" William menaikkan sebelah alisnya. Elvina membuka mulut, baru saja ia hendak menjawab, mendadak ia diam memikirkan ucapan William.


"Kau tidak berniat untuk menikah dengannya?" William terkejut dengan reaksi kakaknya yang mendadak diam tanpa suara.


"Hey! Aku masih muda, dan aku belum kepikiran sampai menikah di usia muda. Memangnya kau pikir ini adalah hal yang mudah untuk aku putuskan?! Lagipula, aku ingin membahagiakan mama dan papa dulu."


"Oh…"


"Omong-omong dimana Rei? Kenapa kau sendiri?"


"Dia sudah pulang, Tante Isyana mencarinya dan meminta dia untuk segera pulang."


"Begitu rupanya. Ya sudah, kalau begitu aku ganti pakaianku dulu setelah itu aku mau istirahat. Kau juga sebaiknya tidur. Ini sudah malam."


"Baiklah."


...*...


Brukk!


Leon merebahkan tubuh di ranjang tidurnya. Rasa lelah yang menggelayut di tubuhnya, benar-benar membuatnya serasa kehilangan tenaga walau hanya untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Namun, mengingat apa yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya tak bisa tenang. Senyuman di wajahnya sejak tadi sama sekali tak hilang, memikirkan jawaban yang di berikan Elvina padanya.


Kalimat Elvina seakan terus terngiang dalam benaknya. Kejadian tadi terus terulang dalam pikirannya. Leon terus tersenyum, rasanya masih bagaikan mimpi kala Elvina akhirnya memberikan jawaban 'ya' atas perasaannya.


"Apakah aku akan bisa tidur nyenyak malam ini?" gumam Leon, ia memegangi dadanya. Detak jantungnya masih berdebar hebat.


Pikiran Leon tiba-tiba kembali mengingat setiap kejadian yang ia lewati, mereka ulang setiap adegan yang telah terjadi dalam ingatannya. Sampai akhirnya, fokusnya mendadak tertuju pada satu ingatan.


Leon terdiam, seluruh perasaan bahagianya berubah menjadi bingung dalam sekejap. "Apa sebenarnya…"


...***...