Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 176 - Fadly



...***...


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengan nenek?" Claire menaruh cangkir ditangannya ke atas meja kaca yang ada. Setelah kejadian tadi, guru yang semula melarang Lusia masuk meminta maaf padanya karena tidak tahu kalau dia adalah cucu dari Claire yang menjabat sebagai kepala sekolah di sana. Setelah itu, Claire meminta Lusia untuk masuk ke dalam ruangannya.


Dan disinilah dia, duduk di sofa empuk yang berada di dalam ruang kerja neneknya.


"Aku mau minta tolong pada nenek, aku ingin pindah ke kelas yang sama dengan Gloria."


"Pindah ke kelas yang sama dengan Gloria? Tapi kenapa?"


"Pokoknya aku ingin berada di kelas yang sama dengannya, nenek juga tahu sendiri, 'kan kalau aku dan dia tidak pernah terpisahkan. Maka dari itu, sekarang juga aku tidak ingin terpisah dengannya."


"Tapi mungkin ini sudah saatnya untuk kalian berada di kelas yang berbeda."


"Aku tidak mau! Pokoknya aku ingin pindah ke kelas yang sama dengannya! Aku mohon pada nenek, aku ingin pindah ke kelasnya."


"Kalau kau pindah ke kelasnya, itu artinya harus ada anak lain yang di pindahkan ke kelasmu."


"Tidak apa-apa, kita bertukar tempat. Asalkan aku bisa satu kelas dengannya."


"Tapi nenek tidak bisa melakukannya, apalagi tanpa sebab yang jelas."


"Oh, ayolah bantu aku. Aku ingin bersama Gloria." Lusia merengek pada neneknya. Claire terdiam, ia meraih cangkirnya dan kembali meneguk minumannya.


Lusia mendengus kesal. Sudah ia prediksi sebelumnya kalau ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.


Bukan Lusia namanya kalau aku tidak memiliki rencana cadangan, batinnya. Lusia tersenyum simpul menatap neneknya.


"Baiklah, kalau nenek tidak ingin membantuku. Tapi, jangan salahkanku kalau aku memberitahu kakek soal rahasia yang nenek miliki."


"Mengancam adalah kata yang kejam untuk seorang cucu pada neneknya, anggap saja ini sebagai peringatan. Aku tahu, nenek sangat menyayangiku. Maka dari itu, nenek pasti akan mengabulkan setiap permintaanku.".


"Ya, kau memang benar. Tapi, memangnya rahasia apa yang kau miliki sampai kau berani memperingati nenek?"


Lusia diam, ia tersenyum penuh arti menatap neneknya yang tampak mulai masuk dalam jebakannya.



...*...


"Baiklah, kalau begitu saya percayakan Rei pada bapak." Isyana tersenyum pada Fadly, pria yang tak lain adalah guru wali kelas dimana Rei ditempatkan.


"Ibu jangan cemas, saya akan menjaga dan memperhatikan Rei seperti yang lainnya." Pria berkacamata itu menjawab, ia tersenyum simpul ke arahnya.


"Kalau begitu Rei, mama pulang dulu. Kau tahu jalan pulangnya, 'kan?" Isyana menoleh pada Rei di sampingnya. Pria yang menjadi anaknya itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Baik, saya permisi dulu pak." Isyana berpamitan. Wanita itu berlalu meninggalkan Rei dan Fadly yang kini berdiri di depan ruang guru.


Sepeninggalan Isyana, Fadly segera mengajak Rei untuk ke ruang kelasnya.


Rei berjalan di belakang Fadly, sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir mereka. Keduanya hanya diam.


Fokus mata Rei tertuju pada segala detail bangunan yang dilihatnya. Bangunan yang cukup indah, gaya arsitekturnya benar-benar rapi dengan sentuhan Eropa yang begitu lekat.


Sebelumnya, Isyana menjelaskan segala hal yang menimpa Rei dan menjelaskan mengenai alasannya untuk kembali masuk sekolah setelah sempat tertunda setahun.


...***...