
...***...
Elvina dan William semakin resah setelah melihat apa yang terjadi, apalagi dugaan Elvina mengenai Rei yang bertemu dengan Joe, menambah rasa cemasnya.
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" William mendongak menatap Elvina.
"Kita harus mencaritahu kemana Joe membawa Rei. Kita cari di dekat ini, siapa tahu ada jejak yang mereka tinggalkan."
"Baiklah, ayo pergi." William dan Elvina bergegas pergi dari sana. Melanjutkan pencarian mereka terhadap Rei yang masih belum dapat mereka temukan.
Rei… dimana kau sebenarnya? pikir Elvina.
...*...
"Ternyata kau juga bisa melihatnya." Lelaki itu mengeluarkan seringainya. Rei menoleh ke arahnya. Ternyata bukan hanya dirinya yang dapat melihat makhluk besar menyeramkan yang kini menginjak tubuhnya itu.
Dia juga bisa melihatnya? Makhluk apa itu? Sejak kapan dia ada di sana? Seingatku, aku jatuh menabrak pohon, bukan tubuhnya, batin Rei.
"Meskipun kau dapat melihatnya, tapi kau tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk melawannya. Sekarang, biarkan aku merasakan energimu yang nikmat itu." Tangan yang terulur ke arah Rei, perlahan mulai menyerap sesuatu dari tubuhnya.
Rei mengolok begitu melihat sesuatu seperti asap yang keluar dari dalam tubuhnya dan bergerak menuju telapak tangan pria itu.
A… apa yang sedang dia lakukan? Kenapa tubuhku terasa aneh? A… aku… tubuhku rasanya begitu lemas, aku tidak bisa merasakan tubuhku. Rasanya… seperti tangannya menyerap energiku. Aku tidak bisa bisa bergerak, bagaimana ini… Rei mulai merasakan tubuhnya semakin lemas, bersamaan dengan itu, ia melihat lebih banyak asap yang keluar dan terserap oleh telapak tangan lelaki itu.
Pria itu memejamkan matanya dengan seringai yang tampil diwajahnya. Ia tampak sangat menikmati setiap serapan energi yang dirampasnya dari Rei.
Rei semakin tak berdaya untuk melawan, tubuhnya semakin lemas dengan kesadarannya yang mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Elvina… William… tolong aku… batin Rei. Entah kenapa dalam keadaan seperti ini, pikirannya mendadak teringat pada kedua sepupunya.
Rei… dimana kau sebenarnya? Kenapa kau menghilang? Rei tertegun begitu dirinya mendengar suara Elvina berdengung dalam gendang telinganya. Suaranya terdengar begitu jelas.
Oh… benar, kenapa tidak terpikirkan olehku? ucap Rei dalam hati. Ia baru ingat kalau dirinya bisa berkomunikasi dengan Elvina walaupun mereka saling berjauhan satu sama lain.
Rei memejamkan kedua matanya walaupun tubuhnya semakin lemas dan tak bisa digerakkan sama sekali.
Elvina… panggilnya dalam hati.
Rei? Ini kau, 'kan? Rei dapat mendengar suara Elvina di seberang sana.
Kau dimana? Aku dan Will benar-benar mencemaskan keadaanmu. Kau pergi kemana? Elvina terdengar sangat cemas.
A… aku di hutan. Tolong aku!
Hutan? Baiklah, tunggu aku. Kami segera ke sana!
Rei membuka kedua matanya begitu dirinya selesai berkomunikasi dengan Elvina lewat kemampuan telepatinya.
Sekarang aku harus memikirkan cara agar aku bisa memberikan isyarat pada Elvina kalau aku berada di sini supaya mereka bisa dengan mudah menemukanku, pikirnya. Rei berusaha memikirkan cara agar dirinya bisa memberikan isyarat pada Elvina mengenai kebenarannya di bagian hutan tersebut.
Ia mengerjap hingga membuat pupil matanya berubah biru. Rei memandang tajam salah satu pohon kering yang letaknya cukup jauh dari tempatnya berada.
...***...