
...***...
Pulau seberang, saat ini.
2020
Dorothy menaruh cangkir dalam genggamannya ke atas meja.
"Begitulah ceritanya. Kami hanya bertemu sesaat, sebelum akhirnya Rei kembali melarikan dan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi," jelas Dorothy.
"Oh…" Elvina dan yang lainnya menganggukkan kepala mereka menyimak penjelasan Dorothy barusan.
"Terima kasih untuk tehnya, Thalia," ujar William sambil tersenyum ke arah anak itu.
"Sama-sama. Kalau begitu aku permisi." Thalia beranjak dari tempatnya, meninggalkan mereka di dalam sana.
"Setelah itu apa yang sebenarnya terjadi, Rei? Apakah kau ingat apa yang terjadi setelah kau bertemu dengan Dorothy?" Elvina mengalihkan fokusnya pada Rei.
Rei terdiam untuk sesaat, ia berusaha mengingat-ingat kembali. Tapi sayangnya tidak berhasil.
"Aku tidak ingat kejadian selengkapnya. Ingatanku masih kabur, dan aku belum bisa mengingat semuanya."
"Begitu rupanya…"
"Tidak apa-apa, jangan terlalu dipaksakan," ujar Dorothy sambil tersenyum. "Kau akan ingat kalau saatnya telah tiba. Jadi jangan terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat sesuatu yang memang tidak bisa kau ingat."
"Iya."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku masih harus mengecek Derek." Dorothy beranjak dari tempatnya meninggalkan mereka.
"Derek? Siapa dia?" tanya William yang penasaran.
"Derek adalah salah satu orang yang di selamatkan oleh Dorothy dan yang lainnya. Dia terluka cukup parah dan sampai sekarang belum sadarkan diri," sahut Amanda.
"Benarkah? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Elvina yang ikut penasaran.
"Apa katanya?" William tak mengerti. Elvina lalu menjelaskan apa yang di bicarakan oleh Amanda barusan.
"Dia terluka saat dalam perjalanan melarikan diri. Selain itu, sepertinya dia juga baru saja mengalami luka akibat operasi."
"Operasi? Maksudmu, dia melarikan diri setelah mengalami operasi memasangkan chipset di otaknya?"
"Begitulah, kurang lebih."
Ceklek!
Dorothy mendorong pintunya perlahan. Begitu ia melangkah masuk, ia melihat Joe yang sedang terduduk dengan posisi kepala bersandar pada tempat tidur yang ditempati oleh Derek yang sampai sekarang belum juga sadarkan diri.
Dorothy menghampiri mereka secara perlahan. Ia memperhatikan Joe yang tertidur lelap di sana.
Dia sepertinya sangat menyayangi adiknya sampai-sampai dia selalu datang ke sini setiap hari dan menjaga Derek, bahkan sampai ketiduran seperti ini… pikirnya sambil tersenyum.
Ia lalu melangkah menghampiri kursi lain yang ada di sana. Dorothy menaruh semua barang yang dibawanya di atas nampan ke atas meja lalu mulai sibuk mengecek kondisi Derek.
Dorothy yang sejak tadi sibuk dengan Derek tanpa sadar membuat Joe terusik.
Joe membuka kedua matanya secara perlahan dan hal pertama yang dilihatnya adalah Dorothy yang sedang memeriksa adiknya.
"Dorothy…"
"Oh, Joe kau terbangun? Apakah aku mengganggu tidurmu?"
"Tidak sama sekali. Kau akan memeriksa Derek?"
"Iya." Dorothy mengangguk sambil kembali fokus pada apa yang dikerjakannya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia sudah jauh lebih baik. Jadi kau tidak perlu terlalu cemas, Joe."
"Sungguh?"
"Iya. Dan sebaiknya, kau biasakan untuk tidur di ranjang. Jangan sampai kau sakit juga."
"Haha, baiklah. Akan aku ingat."
"Aku hanya perlu mengganti perban di tubuhnya, setelah itu selesai."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan keluar sebentar, aku harus ke kamar mandi."
"Pergilah. Aku akan menjaga Derek untukmu."
"Terima kasih."
Joe beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia melangkah keluar dari dalam kamar tempat Derek terbaring tak sadarkan diri disana.
...***...