
...***...
"Apakah dia orangnya?" Lucy menyodorkan ponselnya yang kini menampakkan foto bergambar seorang pria.
Rei terkejut melihat pria yang ada dalam foto tersebut.
Profesor… batinnya.
Elvina menoleh ke arah Rei, melihat ekspresinya membuat Elvina penasaran. Ia berusaha mengintip foto yang di tunjukkan.
Elvina membulatkan mata saat melihat foto profesor dalam ponsel Lucy.
Dia juga tahu tentang profesor? pikir Elvina.
"Bagaimana?" Lucy menatap Rei dengan wajah bingung, tidak ada respon apapun dari pria yang berdiri di dekat Elvina itu.
"Ya, dia orangnya. Hanya saja seperti yang aku katakan, dia mengenakan kacamata." Rei menyodorkan ponsel dalam genggamannya.
Itu artinya, yang bertemu dengan Rei serta Elvina waktu itu adalah orang yang sama, batin Lucy yang bisa di dengar Rei.
Leon meraih ponsel sepupunya dan melihat foto yang ditunjukkan pada Elvina dan Rei.
"Dia tampak seperti orang Inggris," gumam Leon menanggapi foto yang dilihatnya.
"Ya, dia memang orang Inggris," jawab Lucy. Wanita itu lantas beralih fokus pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Omong-omong aku harus pergi, setelah ini aku ada janji untuk bertemu dengan Aland," ujar Lucy yang kemudian beranjak bangun dari tempat duduknya setengah mengambil ponselnya dari tangan Leon.
"Kau akan pergi sekarang?" Leon mendongak menatap sepupunya.
"Ya."
"Aku benar-benar minta maaf, tapi aku sungguh tidak bisa. Kalau begitu, aku permisi."
"Sangat di sayangkan, kalau begitu lain kali ayo habiskan waktu bersama," kata Rei.
"Ya, boleh saja." Lucy tak keberatan.
"Kalau begitu sampai jumpa." Leon, Elvina dan Rei melambaikan tangan ke arah wanita berambut pirang yang kini berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.
...*...
"Jadi maksudmu, sebelum dia pergi ke London, dia sempat bertemu dengan kekasihnya Leon serta sepupunya?" Aland berusaha memperjelas situasinya.
"Namanya Elvina dan Rei. Begitu yang aku dengar dari penjelasan mereka," jawab Lucy. Ia baru saja tiba di apartemen dan langsung meminta Aland untuk bertemu, banyak hal yang harus mereka bahas.
"Itu artinya, target kita berada di ini? Di Jakarta?"
"Ya, sepertinya begitu. Karena, kau ingin sendiri 'kan saat kita tiba di bandara, di saat itu juga kita kehilangan jejaknya. Bahkan Ethan juga sudah tidak bisa menangkap sinyal dari alat komunikasi miliknya, di tambah ada banyak petunjuk mengenai keluarganya di sini. Bisa di simpulkan kalau target kita memang berada di sini!"
"Sekarang artinya kita hanya perlu mencari jejaknya lebih teliti lagi. Kita harus mencari tahu lebih banyak informasi tentang target kita dan menelusuri setiap jejaknya. Kita cari dan datangi setiap orang yang berhubungan dengannya, dengan begitu kita bisa menemukan keberadaannya."
"Ya, aku setuju. Pokoknya, kita harus bisa menangkapnya! Harus! Jangan sampai dia lepas lagi, karena kita harus mengembalikan Am! Anggota kita yang hilang."
"Kita benar-benar kesulitan tanpa dia. Karena tidak mungkin kita terus merepotkan Ethan, dia saja bahkan memiliki misinya sendiri."
"Benar."
Lucy terhentak di kursinya, rasa lelah menggelayut di tubuhnya dengan pikiran yang terus di penuhi dengan berbagai pemikiran, ia berusaha mencari cara agar bisa menemukan keberadaan target mereka dan membebaskan salah satu anggotanya dari mereka.
...***...